Lebih lanjut, Sony menilai sikap seseorang terhadap kerja keras erat kaitannya dengan motivasi bekerja.

Menurutnya, ada karyawan yang bekerja sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar atau mempertahankan eksistensi, tanpa memiliki dorongan untuk berkembang lebih jauh.

“Kalau kerja keras itu tidak dimiliki oleh seorang karyawan misalnya, tentu ini lebih masalah motivasi. Apa motifnya bekerja? Ada orang bekerja hanya untuk eksistensi,” jelasnya.

Kemudian, Sony menggambarkan, ada pekerja yang merasa cukup dengan pekerjaan yang ringan meskipun harus menerima bayaran lebih kecil.

Namun, menurutnya, kondisi tersebut biasanya tidak bertahan lama ketika melihat rekan-rekannya berkembang lebih cepat.

“Dia bisa datang ke bosnya bilang, saya nggak mau dibayar mahal tetapi disuruh kerja keras, saya nggak mau. Saya maunya kerja seperti ini saja walaupun bayarannya cukup sekian, nggak apa-apa,” katanya.

“Tetapi itu tidak akan berlangsung lama. Karena ketika teman-temannya maju, teman-temannya menjadi pemimpin dia misalnya, dia akan mulai gelisah, dia akan mulai tidak nyaman. Dan itu menimbulkan masalah baru,” lanjut Sony.

Karena itu, Sony menekankan pentingnya perusahaan memahami motivasi setiap karyawan agar persoalan tersebut bisa diselesaikan sejak awal.

Menurutnya, jika motivasi individu ternyata tidak sejalan dengan nilai dan budaya perusahaan, maka perusahaan tidak perlu mempertahankannya.

“Kalau motivasinya kita tahu apa, maka kita bisa memberesinya. Kalau memang akhirnya motivasinya tidak sama dengan nilai-nilai perusahaan kita, orang seperti ini nggak perlu dipertahankan. Itu poinnya,” tandas Sony.

Baca Juga: Pesan Ignasius Jonan: Leader Jangan Kambing Hitamkan Karyawan