Banyak orang menganggap kanker payudara pasti diturunkan dari orang tua atau anggota keluarga. Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Faktanya, hanya sebagian kecil kasus kanker payudara yang berkaitan dengan faktor genetik, sementara sebagian besar lainnya dipengaruhi oleh gaya hidup, hormon, dan proses penuaan.

Secara umum, sekitar 5 hingga 10 persen kasus kanker payudara disebabkan oleh faktor keturunan. Sementara itu, sekitar 90 persen kasus bersifat sporadis, yakni muncul tanpa dipicu oleh mutasi gen yang diwariskan dari keluarga. Kondisi ini berkembang akibat kombinasi berbagai faktor risiko yang dialami seseorang sepanjang hidupnya.

Pada kasus yang bersifat keturunan, penyebab paling umum adalah mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2. Dalam kondisi normal, kedua gen tersebut berfungsi memperbaiki kerusakan DNA dan membantu mencegah pertumbuhan sel yang tidak normal. Namun, ketika mengalami mutasi dan diwariskan dalam keluarga, risiko seseorang terkena kanker payudara maupun kanker ovarium dapat meningkat secara signifikan.

Baca Juga: Benarkah Kebiasaan Menggigit Puting Pasangan Bisa Menyebabkan Kanker Payudara? Begini Kata Dokter Ahli

Selain BRCA1 dan BRCA2, terdapat beberapa gen lain yang juga diketahui dapat meningkatkan risiko kanker payudara, seperti PALB2, TP53, dan CHEK2. Meski demikian, memiliki mutasi gen tersebut bukan berarti seseorang pasti akan mengalami kanker payudara. Mutasi genetik hanya menunjukkan bahwa risikonya lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak memiliki mutasi serupa.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang dikutip pada Senin (20/07/2026), seseorang memiliki kemungkinan lebih tinggi membawa mutasi BRCA apabila memiliki beberapa anggota keluarga yang menderita kanker payudara, memiliki kerabat yang didiagnosis sebelum usia 50 tahun, terdapat riwayat kanker ovarium dalam keluarga, atau ada anggota keluarga laki-laki yang pernah mengalami kanker payudara.

Baca Juga: Gaya Hidup Modern Picu Kanker Payudara di Usia Muda, Ini Faktanya

Oleh karena itu, riwayat keluarga menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan. Risiko kanker payudara cenderung meningkat apabila terdapat anggota keluarga inti, seperti ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan, yang pernah didiagnosis kanker payudara.

Namun, tidak memiliki riwayat keluarga bukan berarti seseorang terbebas dari risiko. Justru sebagian besar penderita kanker payudara tidak memiliki hubungan keturunan dengan penyakit tersebut. Oleh sebab itu, setiap perempuan tetap perlu menjaga kesehatan dan melakukan deteksi dini secara rutin.

Selain faktor genetik, sejumlah kondisi lain diketahui dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Dari sisi hormonal dan reproduksi, perempuan yang mengalami menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun, memasuki menopause setelah usia 55 tahun, melahirkan anak pertama di atas usia 30 tahun, atau belum pernah melahirkan memiliki risiko yang lebih tinggi. Penggunaan terapi pengganti hormon kombinasi estrogen dan progesteron dalam jangka panjang setelah menopause juga dapat meningkatkan risiko.

Faktor medis juga berperan dalam perkembangan kanker payudara. Perempuan yang pernah mengalami kanker pada salah satu payudara memiliki peluang lebih besar mengalami kanker pada payudara lainnya. Selain itu, jaringan payudara yang padat (dense breasts) serta riwayat paparan radiasi di area dada saat masa kanak-kanak atau remaja juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Baca Juga: Psikolog Madelina Mutia Ungkap Sederet Mitos Teratas Seputar Kanker Payudara

Di sisi lain, gaya hidup menjadi faktor risiko yang dapat dikendalikan. Obesitas, terutama setelah menopause, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan mengonsumsi alkohol, serta merokok diketahui dapat meningkatkan peluang terjadinya kanker payudara. Menjalani pola hidup sehat dengan menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan menghindari rokok maupun alkohol dapat membantu menurunkan risiko penyakit ini.

Deteksi dini juga memegang peranan penting dalam meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) secara rutin setiap bulan setelah menstruasi selesai. Selain itu, perempuan juga dianjurkan menjalani pemeriksaan payudara oleh tenaga kesehatan (SADANIS) atau mammografi sesuai usia dan rekomendasi dokter.

Bagi mereka yang memiliki riwayat kanker payudara yang kuat dalam keluarga, konsultasi dengan dokter mengenai tes genetik dapat menjadi pilihan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya mutasi gen tertentu yang dapat meningkatkan risiko kanker sehingga langkah pencegahan dan pemantauan dapat dilakukan lebih awal.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kanker payudara memang dapat diturunkan dalam keluarga, tetapi kasus yang disebabkan oleh faktor genetik hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan penderita. Karena sebagian besar kasus dipengaruhi oleh faktor non-genetik, menjaga gaya hidup sehat serta melakukan deteksi dini secara rutin tetap menjadi langkah terbaik untuk mengurangi risiko dan meningkatkan peluang penanganan sejak stadium awal.