Dikatakan Irvan, konsep ini membuat kopi tak lagi eksklusif berada di coffee shop. Ke depan, kopi akan hadir di lebih banyak ruang aktivitas, menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Dan menurutnya, aksesibilitas menjadi kunci kedua setelah kemudahan.
“Nggak cuma di coffee shop, tapi nanti akan lebih aksesibel. Bahkan tempat yang awalnya bukan tempat ngopi, bisa jadi kopinya masuk ke situ. Relevan dengan aktivitasnya, entah olahraga, taman bermain, atau kegiatan lainnya,” kata Irvan.
Menariknya, Irvan melihat kopi juga akan berperan sebagai vehicle atau kendaraan bagi produk-produk lokal lainnya. Bukan hanya kopi yang dibawa, tetapi juga cerita dan kekayaan produk Indonesia yang menyertainya.
“Bukan hanya kopi, justru di luar kopi, mudah-mudahan banyak banget produk-produk Indonesia yang akan masuk ke dalam vehiclenya itu, dibawa ke dalam aksesibilitas yang sama,” ungkapnya.
Irvan melanjutkan, selain convenience, aksesibilitas, dan relevansi dengan gaya hidup, ada satu elemen yang menurut Irvan tidak akan pernah kehilangan daya tarik, bahkan justru semakin menguat, yakni storytelling.
“Storytelling itu tidak akan pernah gugur. Kami yakin malah akan lebih di-amplify ke depannya. Karena kalau kopi dianggap bukan storytelling, dia akan jadi commodity. Kalau sudah commodity, ujungnya perang harga,” tegas Irvan.
Baginya, kekuatan cerita adalah pembeda utama industri kopi Indonesia. Cerita tentang petani, daerah asal, proses, hingga nilai budaya di balik secangkir kopi akan terus mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.
“Kopi nggak akan lari ke sana. Kita akan lihat semakin banyak story-story yang harum, yang mengharumkan nama Indonesia,” pungkas Irvan.
Baca Juga: Anomali Coffee Resmi Buka Gerai ke-19, Luncurkan Anomali Cola di MargoCity Depok