Artificial intelligence atau yang biasa disebut AI semakin banyak digunakan dalam operasional bisnis sehari-hari. Dari otomatisasi hingga analisis data, berbagai organisasi mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi dan membantu proses pengambilan keputusan. Namun di saat yang sama, para pelaku kejahatan siber juga memanfaatkan teknologi yang sama untuk mengembangkan cara serangan yang baru.
Akibatnya, muncul generasi baru ancaman siber yang lebih cepat, lebih adaptif, dan semakin sulit dideteksi. Menurut Clara Hsu, Indonesia Country Manager di Synology Inc., perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan solusi manajemen data, perkembangan AI telah mengubah secara signifikan cara serangan siber dilakukan saat ini.
“Dulu serangan siber sangat bergantung pada upaya manual. Sekarang AI memungkinkan pelaku serangan mengotomatiskan serangan dan menjalankannya dalam skala besar, sehingga ancaman menjadi lebih canggih dan lebih sulit dideteksi oleh organisasi,” jelasnya dalam keterangan resmi seperti dikutip, Sabtu (14/3/2026).
Perubahan ini terlihat jelas pada beberapa jenis serangan yang semakin berkembang, seperti phishing, pencurian kredensial, dan ransomware.

Baca Juga: Dua Mata Pisau Artificial Intelligence dalam Pertumbuhan Ekonomi RI
Serangan Phishing Semakin Sulit Dikenali
Phishing telah lama menjadi salah satu cara paling umum bagi pelaku serangan untuk mendapatkan akses ke sistem perusahaan. Dulu, email phishing relatif mudah dikenali, biasanya berisi kesalahan ejaan, kalimat yang janggal, atau tautan yang terlihat mencurigakan. Namun, AI kini membuat serangan semacam ini jauh lebih meyakinkan.
Dengan bantuan AI dan machine learning, pelaku serangan dapat membuat email phishing yang terlihat autentik dan terasa lebih personal. Mereka bahkan dapat memanfaatkan informasi publik dari situs perusahaan, media sosial, maupun profil profesional untuk menargetkan karyawan tertentu.
Alih-alih pesan penipuan yang bersifat umum, korban bisa menerima email yang menyebutkan jabatan mereka, proyek yang sedang dikerjakan, bahkan nama rekan kerja.
Tingkat personalisasi seperti ini membuat serangan phishing jauh lebih sulit dikenali.
“AI menghilangkan banyak tanda peringatan yang dulu sering digunakan orang untuk mengenali phishing,” kata Clara. “Pesan yang dikirim bisa terdengar alami, profesional, dan sesuai konteks.”