Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais ogah mencabut pernyataan kontroversialnya yang menyinggung Presiden Prabowo Subianto dan Seskab Teddy Indra Wijaya.
Dia bahkan rela diseret ke jalur hukum demi mempertahankan argumen kontroversial yang kini dikritik keras banyak pihak itu.
Baca Juga: Amien Rais Serang Seskab Teddy, Qodari Pasang Badan
“Di pengadilan saya akan yakin sekali, tunjukkan! Saya minta beberapa dokter spesialis apakah betul dia itu gay atau bukan. Nah, gitu saja nanti kita ngobrol-ngobrol lagi," kata Amien saat ditemui usai acara Munas Partai Ummat di Sleman, Minggu (3/5/2026).
Dalam pernyataannya di sebuah video yang beredar luas beberapa hari belakangan ini, Amien Rais secara gamblang menuding Seskab Teddy sebagai seseorang yang menyukai sesama jenis, dia meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menyingkirkan Seskab Teddy dari Kabinet Merah Putih.
Pernyataan itu direspons tegas oleh sejumlah pihak, Amien dinilai telah menyebar fitnah yang dapat membunuh karakter orang. Ketokohan Amien kini dipertanyakan.
Salah satu pihak yang turut merespons pernyataan itu adalah Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. Meski begitu eks Politisi PAN itu tetap kuekeh mempertahankan pernyataan yang belum terbukti tersebut.
"Saya diberi tahu ahli-ahli hukum itu, Komdigi tidak berhak. Jadi yang berhak itu si Teddy, nah itu baru akan dibawa ke pengadilan,” ujarnya.
Selain itu ia menekankan pentingnya kebebasan berpendapat dalam sistem demokrasi yang dianut Indonesia.
"Ya, jadi saya begini. Saya pertama tentu yakin demokrasi itu berjalan baik kalau kebebasan mengeluarkan pendapat yang dijamin oleh undang-undang dasar kita itu tidak dibatasi, tidak diberangus," ujarnya.
Amien menilai perbedaan pendapat, termasuk yang berseberangan dengan pemerintah, merupakan hal yang wajar selama menyangkut kepentingan bangsa.
Baca Juga: Pasang Badan Hadapi Kepungan Kritik, Seskab Teddy Jadi Sorotan
"Namun, yang namanya negara demokrasi, orang berpendapat itu boleh. Bertentangan dengan penguasa yang resmi, bertentangan dengan kelompok rakyat yang lain-lain itu. Tetapi apa, jadi point of conflict-nya itu, point of perbedaannya itu adalah yang bersangkutan dengan nasib bangsa," ujarnya.