Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memang membuat sejumlah pekerjaan kantoran terancam tergerus. Namun, di balik otomatisasi tersebut muncul kebutuhan tenaga kerja baru yang justru sulit digantikan teknologi. Salah satunya adalah teknisi listrik yang dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikan pusat data AI.
Di Amerika Serikat (AS), profesi ini bahkan menawarkan penghasilan fantastis. Pembawa acara televisi Mike Rowe mengungkapkan, teknisi listrik muda yang bekerja di pusat data AI bisa memperoleh penghasilan hingga US$240.000-US$280.000 per tahun.
Dengan kurs sekitar Rp17.900 per dolar AS, jumlah tersebut setara sekitar Rp4,3 miliar hingga Rp5 miliar per tahun.
Baca Juga: Dua Mata Pisau Artificial Intelligence dalam Pertumbuhan Ekonomi RI
Dalam podcast Power Players yang dikutip pada Selasa (18/08/2026), Rowe menceritakan pengalamannya bertemu sejumlah teknisi listrik Gen Z yang bekerja di sebuah pusat data AI di Plano, Texas.
“Para teknisi listrik yang saya wawancarai dan temui dua bulan lalu di sebuah data center di Plano, Texas, semuanya berusia di bawah 30 tahun, dan semuanya menghasilkan US$240.000 hingga US$280.000 per tahun,” kata Rowe.
Bahkan, penghasilan tersebut masih bisa bertambah karena para pekerja dapat mengambil lembur. Ia juga mengatakan keterampilan para teknisi tersebut membuat mereka diburu perusahaan lain.
“Mereka bisa bekerja lembur sebanyak yang mereka inginkan, tidak punya utang, dan ketiganya dibajak perusahaan lain tiga kali dalam 18 bulan terakhir,” ujarnya.
Baca Juga: Kenapa Gen Z Lebih Suka Texting daripada Telepon? Ini Alasannya
Tingginya permintaan terhadap teknisi listrik tidak terlepas dari pesatnya pembangunan infrastruktur AI. Pusat data merupakan bagian penting dalam ekosistem AI karena membutuhkan ribuan GPU untuk menjalankan berbagai model dan layanan berbasis kecerdasan buatan.
Semakin besar penggunaan AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap pusat data. Kondisi tersebut kemudian menciptakan permintaan baru terhadap tenaga kerja konstruksi dan teknis.
Laporan Fortune menyebut pekerja konstruksi yang terlibat dalam proyek pembangunan pusat data di AS memperoleh premi upah sekitar 32 persen lebih tinggi dibandingkan pekerja pada proyek konstruksi tradisional. Tambahan pendapatan tersebut mencapai sekitar US$81.800 per tahun.
Kebutuhan tenaga kerja tidak hanya muncul untuk teknisi listrik. Tukang ledeng, mekanik, teknisi umum, dan pekerja konstruksi juga ikut dibutuhkan dalam pembangunan serta pengoperasian pusat data.
Fenomena tersebut menunjukkan paradoks perkembangan AI. Di satu sisi, teknologi dapat mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah pekerjaan administratif. Di sisi lain, teknologi justru menciptakan pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan manusia.
Baca Juga: Bukan Gen Z? Ini Generasi yang Paling Melek Keuangan di Indonesia
Teknisi listrik menjadi salah satu contohnya. AI dapat mengendalikan berbagai sistem digital, tetapi pembangunan infrastruktur fisik tetap membutuhkan manusia dengan keahlian khusus.
Kondisi ini juga ikut mendorong Generasi Z untuk mempertimbangkan profesi teknis sebagai pilihan karier. Pekerjaan yang dahulu dianggap sebagai pekerjaan manual kini berkembang menjadi profesi berkeahlian tinggi, bahkan menawarkan penghasilan yang mampu menyaingi atau melampaui sejumlah pekerjaan kantoran.