4. Shakespeare & Company, Paris, Prancis
Tak lengkap membicarakan kota literer tanpa menyebut Paris. Di tepi Sungai Seine berdiri Shakespeare & Company, toko buku independen yang menjadi legenda hidup.
Tempat ini pernah menjadi rumah bagi para penulis besar dan hingga kini masih membuka pintu bagi penulis muda yang ingin singgah.
Lorong sempitnya, rak kayu tua, dan atmosfer bohemian menciptakan pengalaman membaca yang intim dan romantis.
5. Hotel Monteleone, New Orleans, Amerika Serikat
Hotel Monteleone menjadi saksi pertemuan para penulis besar seperti Ernest Hemingway di bar komedi putarnya yang benar-benar berputar.
Tradisi ini terus hidup melalui berbagai festival dan perayaan literasi. Di tempat ini, membaca bukan aktivitas sunyi, tapi ia bercampur dengan tawa, musik, dan cerita yang mengalir hingga larut malam.
6. City Lights Bookstore, San Francisco, Amerika Serikat
San Francisco menjadikan sastra sebagai bagian dari geografinya. City Lights Bookstore adalah ikon gerakan sastra Beat yang tetap berdenyut hingga kini.
Didirikan pada 1953, toko ini berperan penting dalam gerakan Beat dan penerbitan karya-karya progresif. Hingga kini, semangat intelektual dan pemberontakan halus itu masih terasa kuat di setiap raknya.
7. The Long Room Library di Trinity College Dublin, Irlandia
Di dalam kompleks Trinity College Dublin di Dublin, terdapat ruang yang kerap disebut sebagai salah satu perpustakaan terindah di dunia, yakni The Long Room Library.
Lorong kayu panjang dengan langit-langit melengkung dan ribuan buku kuno menciptakan suasana hampir sakral.
Tempat ini menjadi simbol bagaimana literasi bukan sekadar hobi, melainkan warisan budaya yang hidup.
Baca Juga: 5 Perpustakaan Terbesar di Dunia yang Sediakan Jutaan Judul Buku, Intip Yuk!