4. Minuman dengan Sodium Benzoate dan Asam Askorbat

dr. Nadhira juga mengingatkan masyarakat untuk lebih teliti membaca label minuman kemasan.

"Dua bahan ini bereaksi secara kimia membentuk benzene, karsinogen kelas 1 menurut IARC. Reaksi makin cepat saat minuman terkena panas atau cahaya matahari. Cek label, kalau ada sodium benzoate dan ascorbic acid sekaligus dalam satu botol, simpan minuman di tempat sejuk dan hindari konsumsi rutin," paparnya.

Dikatakan dr. Nadhira, paparan panas dan sinar matahari dapat mempercepat pembentukan benzena pada kondisi tertentu, sehingga penyimpanan produk juga perlu diperhatikan.

5. Kopi Sachet dengan Non-Dairy Creamer

Kopi instan sachet juga menjadi salah satu produk yang sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.

"Kopi dengan non-dairy creamer merupakan sumber trans fat tersembunyi. Ditambah gula tinggi per sachet dan diminum dua sampai tiga kali sehari. Jika suka kopi, pilih kopi bubuk murni tanpa campuran," kata dr. Nadhira.

Oleh karena itu, mengurangi konsumsi gula tambahan dan lemak trans dapat membantu menjaga kesehatan jantung sekaligus mengurangi risiko penyakit kronis.

6. Yogurt Berperisa

Tidak semua yogurt identik dengan makanan sehat. Yogurt berperisa sering kali mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi.

"Gula tambahan pada yogurt berasa bisa mengandung lebih dari 15 gram per cup kecil. Selalu cek label sebelum membeli. Pilih plain Greek yogurt, lalu tambahkan potongan buah untuk memperkaya rasa," jelasnya.

Cara ini membuat asupan gula lebih terkendali tanpa mengurangi manfaat probiotik dari yogurt.

7. Ikan Asin dan Mi Instan

dr. Nadhira juga menegaskan, knsumsi ikan asin serta mi instan secara berlebihan juga perlu dibatasi karena kandungan garamnya yang sangat tinggi.

Menurut dr. Nadhira, proses pengasinan ikan menggunakan garam dalam jumlah tinggi dan satu bungkus mi instan bisa mengandung hampir seluruh batas garam harian.

“Ini dapat berpotensi merusak lapisan mukosa lambung dan berpotensi meningkatkan risiko kanker lambung maupun nasofaring,” ujarnya.

Ia pun lantas menyarankan agar masyarakat mengurangi penggunaan bumbu sachet, menambahkan sayuran serta sumber protein ke dalam mi instan, dan membatasi konsumsinya tidak lebih dari dua kali dalam seminggu.

Baca Juga: Ahli Gastroenterologi Harvard Ungkap 7 Gejala Awal Kanker Pankreas yang Sering Diabaikan