Di tengah derasnya arus informasi dan kebiasaan serba cepat di era digital, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi semakin penting.

Inilah yang coba dihadirkan oleh PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) melalui inisiatif bertajuk JEDA (Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang), sebuah pendekatan sederhana yang mendorong masyarakat untuk tidak terburu-buru dalam merespons informasi, baik di ruang online maupun offline.

Didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perdagangan RI, Bank Indonesia, serta Indonesian E-commerce Association, Blibli menghadirkan JEDA sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi digital dan perlindungan konsumen.

Lewat microsite jeda10detik.com, masyarakat diajak mengambil jeda singkat selama 10 detik sebelum bertindak atau bereaksi.

Hasilnya cukup mencolok. Dalam social experiment yang berlangsung dari 19 Februari hingga 31 Maret 2026 dan melibatkan lebih dari 158.000 partisipan, sebanyak 7 dari 10 warga Indonesia mengaku merasa lebih tenang setelah melakukan JEDA 10 detik. Temuan ini menegaskan bahwa jeda singkat mampu meredam respons impulsif sekaligus membantu menghadirkan kejernihan dalam pengambilan keputusan.

Head of PR Blibli, Nazrya Octora, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kebutuhan akan kualitas keputusan, bukan sekadar kecepatan.

“Sebagai pelopor ekosistem perdagangan omnichannel, Blibli berkomitmen menghadirkan pengalaman yang dapat dipercaya di setiap titik interaksi. Inisiatif JEDA lahir dari pemahaman bahwa kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga oleh kejernihan, sehingga kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya cepat, tetapi juga memberikan rasa percaya, baik secara online maupun offline. Hal ini sejalan dengan upaya perlindungan konsumen yang terus digaungkan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan rasa aman bagi masyarakat,” ungkap Nazrya, dikutip Selasa (29/4/2026).

Inisiatif ini hadir di tengah tingginya risiko di ruang digital. Data Indonesia Anti Scam Center mencatat lebih dari 432 ribu aduan penipuan dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun dalam periode November 2024 hingga Januari 2026. Sementara itu, survei APJII 2025 menunjukkan bahwa 22,12% pengguna internet Indonesia pernah mengalami penipuan online.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan hanya akses informasi, tetapi bagaimana masyarakat meresponsnya.

Bonifasius Wahyu Pudjianto dari Kementerian Komunikasi dan Digital menilai JEDA sebagai pendekatan yang relevan dalam memperkuat literasi digital.

“Kami sangat mengapresiasi langkah Blibli dalam menghadirkan inisiatif JEDA. Temuan dari hasil social experiment ini memperlihatkan bahwa tantangan utama bukan hanya akses terhadap informasi, tetapi bagaimana masyarakat meresponsnya. Di tengah arus yang begitu cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital. Pendekatan seperti JEDA menjadi contoh konkret bagaimana edukasi bisa dikemas secara sederhana, relevan, dan mudah diterapkan dalam keseharian,” tuturnya.

Baca Juga: Blibli Ingatkan Masyarakat untuk Lakukan JEDA, Antisipasi Penipuan Daring

Jeda Membuka Ruang Refleksi

Dari sisi psikologis, kebiasaan jeda singkat terbukti efektif membantu mengelola emosi dan impuls. Psikolog, Irma Agustina, menjelaskan bahwa jeda memberi ruang bagi pikiran untuk lebih jernih.

“Ada beberapa cara sederhana yang bisa membantu kita menciptakan jeda sejenak untuk menenangkan pikiran. Misalnya dengan menarik napas dalam beberapa kali, melakukan relaksasi singkat dengan menutup mata selama beberapa detik, atau sekadar meregangkan tubuh. Praktik-praktik ini juga sejalan dengan inisiatif JEDA melalui jeda10detik.com dari Blibli, di mana jeda singkat dapat membantu menurunkan respons impulsif dan memberi ruang bagi pikiran untuk lebih jernih sebelum mengambil keputusan,” terang Irma.

Ia juga menambahkan bahwa pendekatan gamifikasi yang digunakan dalam platform tersebut membantu mengalihkan dorongan impulsif menjadi aktivitas yang tetap memuaskan secara kognitif.

“Dengan mengalihkan energi impulsif menjadi aktivitas yang memuaskan secara kognitif, kita sebenarnya sedang melatih kendali diri dengan cara yang menyenangkan,” jelasnya.

Temuan menarik lainnya dari eksperimen ini menunjukkan bahwa dorongan impulsif bisa terjadi pada siapa saja, lintas usia dan gender. Bahkan, kelompok usia 65 tahun ke atas tercatat lebih responsif terhadap konten clickbait dibandingkan generasi muda.

Selain itu, perilaku impulsif juga cenderung meningkat di jam-jam sibuk seperti pagi hingga siang hari, serta pada momen tertentu seperti awal Ramadan, long weekend, dan libur Lebaran. Hal ini memperlihatkan bahwa kondisi mental dan situasi sehari-hari turut memengaruhi cara seseorang merespons informasi.

Namun, setelah mencoba JEDA 10 detik, mayoritas partisipan mengaku merasa lebih tenang dan santai. Ini menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas keputusan.

Dari perspektif sistem pembayaran, Bank Indonesia melihat jeda sebagai langkah preventif yang sederhana namun efektif.

Diana Yumanita dari Bank Indonesia menjelaskan, “Dalam banyak kasus, risiko transaksi tidak hanya terjadi karena sistem yang lemah, tetapi juga karena keputusan yang diambil terlalu cepat tanpa verifikasi. Kebiasaan sederhana seperti ambil jeda 10 detik seperti ini dapat menjadi lapisan perlindungan pertama bagi masyarakat. Ini sejalan dengan upaya kami dalam mendorong edukasi dan pelindungan konsumen di sektor keuangan.”

Sementara itu, Kementerian Perdagangan RI menilai JEDA selaras dengan kampanye “Konsumen Berdaya, Bijak Bertransaksi” dalam momentum Hari Konsumen Nasional 2026. Melalui prinsip BIJAK, yakni Baca, Ingat, Jauhi, Adukan, dan Kritis, masyarakat didorong untuk lebih sadar dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Direktur Pemberdayaan Konsumen, Immanuel Sibero Tarigan, menegaskan bahwa kebiasaan jeda menjadi bagian penting dalam membentuk konsumen yang lebih cerdas. Ia menekankan bahwa meningkatnya transaksi digital juga diiringi risiko dari keputusan impulsif, sehingga jeda sebelum membeli menjadi langkah preventif yang krusial.

Menutup diskusi, Nazrya Octora kembali menegaskan bahwa JEDA bukan sekadar kampanye, melainkan upaya membangun kebiasaan baru yang berdampak luas.

“Kami percaya, ekosistem yang aman dan terpercaya tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh kebiasaan. Di tengah arus informasi yang serba cepat, kita selalu punya pilihan untuk berhenti sejenak, karena keputusan yang lebih baik dimulai dari ruang jeda. Mari mulai dengan jeda10detik.com—Jangan reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang,” tutupnya.

Baca Juga: Blibli Dorong Gaya Hidup Hijau Lewat Gerakan Kelola E-Waste