Growthmates, memilih buku keuangan ternyata bukan hanya soal mencari yang paling populer atau paling laris. Sama seperti investasi, waktu juga menentukan seberapa besar manfaat yang bisa diperoleh dari sebuah buku.

Nasihat yang tepat di usia 20-an dapat menjadi fondasi kekayaan di masa depan, tetapi bisa kehilangan sebagian dampaknya jika baru dipelajari ketika memasuki usia 40 atau 50 tahun.

Setiap fase kehidupan menghadirkan tantangan finansial yang berbeda, mulai dari mengelola gaji pertama, membangun aset, berinvestasi, hingga menikmati hasil kerja keras menjelang masa pensiun.

Karena itu, buku keuangan terbaik adalah buku yang sesuai dengan tahap kehidupan yang sedang Anda jalani.

Dan, dikutip dari Times Now News, Jumat (17/7/2026), berikut 6 buku keuangan yang layak dibaca sesuai fase kehidupan Anda.

1. Broke Millennial Karya Erin Lowry

Buku ini menjadi pilihan ideal bagi mereka yang baru menerima gaji pertama atau mulai mandiri secara finansial. Erin Lowry menjelaskan berbagai konsep dasar, mulai dari membuat anggaran, mengelola utang, hingga menghadapi percakapan seputar uang yang sering kali terasa canggung.

Gaya penulisannya ringan, jenaka, dan jauh dari kesan menggurui. Alih-alih dipenuhi istilah keuangan yang rumit, Broke Millennial menawarkan panduan praktis yang mudah dipahami oleh siapa saja yang baru memasuki dunia kerja.

Di tahap ini, membangun kebiasaan finansial yang sehat menjadi investasi paling berharga karena kesalahan kecil masih relatif mudah diperbaiki.

2. The Millionaire Next Door Karya Thomas J. Stanley dan William D. Danko

Saat penghasilan mulai meningkat, banyak orang menganggap kekayaan identik dengan gaya hidup mewah. Buku klasik ini justru membongkar anggapan tersebut.

Melalui riset bertahun-tahun, Stanley dan Danko menemukan bahwa sebagian besar jutawan bukanlah mereka yang gemar memamerkan kekayaan, melainkan individu yang hidup sederhana, disiplin menabung, dan konsisten membelanjakan uang di bawah kemampuan mereka.

Buku ini membantu pembaca memahami bahwa kekayaan sejati sering kali tidak terlihat dari mobil, rumah, atau barang mewah, tetapi dari aset yang terus bertumbuh. Membacanya sejak awal karier dapat menjadi penangkal budaya konsumtif dan tekanan gaya hidup.

Baca Juga: 5 Buku Pengembangan Diri yang Wajib Dibaca Ulang di Usia 20 dan 40 Tahun

3. The Simple Path to Wealth Karya JL Collins

Ketika penghasilan mulai stabil dan fokus bergeser pada investasi jangka panjang, The Simple Path to Wealth menjadi panduan yang relevan.

Awalnya ditulis sebagai kumpulan surat untuk putrinya, JL Collins menyederhanakan investasi menjadi beberapa prinsip mendasar: menghindari utang yang tidak perlu, berinvestasi secara konsisten pada reksa dana indeks berbiaya rendah, dan membiarkan waktu serta kekuatan bunga majemuk bekerja.

Tanpa jargon yang membingungkan, buku ini menunjukkan bahwa membangun kekayaan tidak harus rumit. Kesabaran dan konsistensi justru menjadi kunci utama.

4. Your Money or Your Life Karya Vicki Robin

Memasuki fase ketika karier sudah mapan, banyak orang mulai mempertanyakan tujuan dari semua kerja keras yang dilakukan. Di sinilah Your Money or Your Life menawarkan perspektif yang berbeda.

Vicki Robin mengajak pembaca melihat uang bukan sekadar alat transaksi, melainkan representasi dari waktu dan energi hidup yang ditukar dengan pekerjaan.

Sudut pandang ini mendorong seseorang untuk mengevaluasi kembali apakah penghasilan yang diperoleh benar-benar sepadan dengan waktu yang dikorbankan.

Sebagai salah satu buku yang menginspirasi gerakan kebebasan finansial (financial independence), karya ini lebih banyak berbicara tentang makna 'cukup' dibanding sekadar mengejar angka kekayaan.

5. Die with Zero Karya Bill Perkins

Setelah berhasil mengumpulkan aset, tantangan berikutnya justru berbeda. Bukan lagi bagaimana menabung lebih banyak, melainkan bagaimana menikmati hasil kerja keras tersebut sebelum terlambat.

Melalui Die with Zero, Bill Perkins berargumen bahwa terlalu fokus menimbun kekayaan bisa membuat seseorang kehilangan kesempatan menikmati pengalaman hidup ketika masih sehat dan memiliki energi.

Buku ini mengajak pembaca memandang waktu sebagai aset yang jauh lebih berharga daripada uang. Kekayaan, menurut Perkins, seharusnya digunakan untuk menciptakan pengalaman bermakna, bukan sekadar diwariskan dalam jumlah maksimal.

6. Enough Karya John C. Bogle

Sebagai pendiri Vanguard dan pelopor investasi indeks modern, John C. Bogle menutup perjalanan finansial dengan sebuah pertanyaan sederhana, tapi dalam, yakni berapa banyak yang sebenarnya sudah cukup?

Dalam Enough, Bogle tidak hanya membahas uang, tetapi juga karakter, integritas, kemurahan hati, dan arti kehidupan yang dijalani dengan baik.

Buku ini menjadi refleksi bagi mereka yang telah mencapai stabilitas finansial dan mulai memikirkan warisan yang ingin ditinggalkan, bukan hanya dalam bentuk harta, tetapi juga nilai kehidupan.

Pesannya pun kuat, yaitu mengejar lebih banyak tanpa pernah merasa cukup bukanlah jalan menuju kebahagiaan.

Baca Juga: Ingin Sukses seperti Warren Buffett? Baca 6 Buku Rekomendasi Investor Legendaris Ini