3. Octavia E. Butler – Parable of the Sower (1993)
Penulis fiksi ilmiah asal Pasadena ini menempatkan latar novelnya pada tahun 2024. Dalam ceritanya, dunia dilanda perubahan iklim ekstrem, krisis air, serta kebakaran hutan yang melanda California.
Butler juga menggambarkan munculnya tokoh politik yang berkampanye dengan slogan 'Make America Great Again', sebuah frasa yang kemudian benar-benar menjadi slogan politik beberapa dekade setelah buku itu diterbitkan.
Ketika kebakaran hutan besar kembali melanda wilayah Los Angeles, banyak pembaca merasa novel Butler terasa seperti cermin masa depan.
Butler sendiri pernah berkata bahwa ia tidak sedang meramalkan apa pun.
Menurutnya, ia hanya 'memperhatikan dunia dengan saksama'.
4. Azar Nafisi – Reading Lolita in Tehran (2003)
Memoar ini menceritakan pengalaman Nafisi yang mengundang tujuh mahasiswinya ke ruang tamu rumahnya di Tehran untuk membaca karya sastra Barat yang dilarang oleh rezim.
Buku yang telah terjual lebih dari 1,5 juta kopi itu menggambarkan bagaimana sistem otoriter dapat membatasi kebebasan berpikir, terutama bagi perempuan.
Kisah Nafisi terasa semakin relevan ketika gelombang protes perempuan di Iran pada 2022 mengangkat slogan Women, Life, Freedom.
Memoarnya kini sering dibaca sebagai kesaksian tentang bagaimana otoritarianisme memengaruhi kehidupan pribadi dan intelektual perempuan.
5. Naomi Klein – The Shock Doctrine (2007)
Dalam bukunya, Naomi Klein memperkenalkan konsep 'kapitalisme bencana' atau gagasan bahwa krisis besar sering dimanfaatkan oleh pemerintah atau perusahaan untuk mendorong kebijakan yang sulit diterima publik dalam kondisi normal.
Ia menelusuri pola tersebut dari pemerintahan Augusto Pinochet di Chile hingga privatisasi yang terjadi setelah Hurricane Katrina di New Orleans.
Sejak buku itu terbit, berbagai krisis global mulai dari krisis finansial 2008 hingga pandemi COVID-19, sering dijadikan contoh bagaimana kebijakan drastis dapat muncul di tengah situasi darurat.
Klein sendiri tidak mengklaim meramalkan masa depan. Ia hanya menjelaskan sebuah pola kekuasaan yang terus berulang.
Baca Juga: 12 Buku yang Menginspirasi dan Menguatkan Perempuan di Setiap Tahap Hidup