Growthmates, kepercayaan diri tidak selalu datang dengan hal besar atau sorak sorai. Ia tidak harus lahir dari piala, nilai sempurna, atau pujian ramai.
Sering kali, kepercayaan diri justru tumbuh perlahan lewat kata-kata sederhana yang diucapkan setiap hari, bahkan tanpa disadari oleh orang dewasa.
Sebagian besar hari dalam hidup anak adalah hari biasa. Isinya tas sekolah yang ditaruh sembarangan, PR yang belum selesai, kaus kaki yang tidak sepasang, dan pertanyaan kecil di waktu yang tidak tepat.
Di tengah keseharian inilah kata-kata jatuh. Ada yang lewat begitu saja, ada yang melekat, dan ada pula yang tinggal lama di ingatan anak.
Ada anak yang masuk ruangan dengan penuh percaya diri. Ada juga yang berhenti sejenak, memperhatikan, memilih diam, dan merasakan banyak hal sekaligus.
Kepercayaan diri memang tidak sama pada setiap anak. Ia dibentuk sedikit demi sedikit, kadang dikuatkan, kadang terluka, lalu diperbaiki.
Sering kali, yang membentuk kepercayaan diri bukan pujian besar atas prestasi, tetapi kata-kata sederhana di momen kecil: saat air tumpah, saat gambar tidak sesuai harapan, atau saat anak mencoba lalu gagal dan melihat reaksi orang dewasa. Dari situlah anak belajar menilai dirinya sendiri.
Dan, berikut ini adalah sederet kata-kata sederhana yang diam-diam membantu membangun kepercayaan diri anak.
1. 'Aku melihat kamu berusaha' lebih bermakna daripada 'kerja bagus'
'Kerja bagus' terdengar positif, tetapi sering kali cepat menguap. Pujian yang menempel justru adalah yang mengakui usaha, bukan sekadar hasil.
Ketika orang dewasa berkata, 'Ini kelihatannya sulit, tapi aku lihat kamu berusaha', anak belajar bahwa berjuang bukanlah sesuatu yang memalukan.
Kepercayaan diri tumbuh bukan dari selalu berhasil, melainkan dari merasa aman untuk mencoba tanpa takut direndahkan.
Bagi anak yang kesulitan membaca atau berhitung, satu kalimat yang mengakui ketekunan bisa menyeimbangkan banyak koreksi. Ia mungkin tidak menyelesaikan masalah, tetapi cukup untuk melembutkan beban di hatinya.
2. 'Tidak apa-apa merasa seperti itu' menciptakan rasa aman secara emosional
Kepercayaan diri bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga soal emosi. Anak yang merasa emosinya diterima akan lebih berani menghadapi dunia.
Ketika sedih, marah, atau takut dianggap berlebihan, anak belajar menyembunyikan dirinya. Sebaliknya, ketika emosi diterima dengan tenang, anak belajar bahwa perasaannya tidak salah.
Anak yang menangis karena kalah bermain tidak selalu membutuhkan ceramah tentang ketangguhan. Terkadang, kalimat sederhana seperti, 'Wajar kalau kamu kecewa', sudah cukup.
Dari situ, anak belajar bahwa emosi bukanlah ancaman, dan kepercayaan diri tumbuh dari rasa aman itu.
Baca Juga: Psikolog: Pola Asuh yang Seimbang Mampu Membuat Anak lebih Berani dan Percaya Diri
3. 'Ceritakan lebih banyak' membuka dunia batin anak
Saat orang dewasa berhenti sejenak dan berkata, 'Ceritakan lebih banyak', sesuatu berubah. Anak merasa diperhatikan. Cerita menjadi lebih panjang, pikiran mengalir, dan imajinasi mendapat ruang.
Tidak semua cerita menarik atau masuk akal, sebagian berulang, sebagian berantakan. Namun, didengarkan membuat anak percaya pada suaranya sendiri.
Ketika anak menceritakan permainan imajiner atau ide anehnya, ia sedang mencoba berpikir. Dan ketika pikirannya dihargai, kepercayaan diri tumbuh secara diam-diam.
4. 'Kesalahan bisa terjadi' menghapus ketakutan untuk mencoba
Banyak anak takut berbuat salah jauh sebelum orang dewasa menyadarinya. Mereka ragu menjawab, menghapus berulang kali, atau menunggu orang lain lebih dulu.
Ketika kesalahan disambut dengan nada tenang alih-alih desahan atau kemarahan, ketegangan mencair.
Air yang tumpah tidak selalu butuh ceramah. Kadang cukup handuk, senyum kecil, dan melanjutkan aktivitas. Dari situ anak belajar bahwa kesalahan bukanlah label yang menempel selamanya dan mencoba kembali terasa aman.
5. 'Kamu bisa mencari solusinya' menumbuhkan kepercayaan dari dalam
Kepercayaan diri bukan berarti selalu tahu jawabannya, melainkan percaya pada kemampuan untuk menemukannya.
Saat orang dewasa memberi ruang dan kepercayaan, anak berhenti mencari validasi di wajah orang lain dan mulai mendengarkan pikirannya sendiri.
Masalah kecil, teka-teki, atau konflik di sekolah berubah menjadi latihan kepercayaan diri. Pesannya bukan pengabaian, melainkan keyakinan 'aku percaya padamu'.
Baca Juga: Sederet Kutipan Bill Gates tentang Kepemimpinan yang Relevan untuk Anak