3. 'Ceritakan lebih banyak' membuka dunia batin anak

Saat orang dewasa berhenti sejenak dan berkata, 'Ceritakan lebih banyak', sesuatu berubah. Anak merasa diperhatikan. Cerita menjadi lebih panjang, pikiran mengalir, dan imajinasi mendapat ruang.

Tidak semua cerita menarik atau masuk akal, sebagian berulang, sebagian berantakan. Namun, didengarkan membuat anak percaya pada suaranya sendiri.

Ketika anak menceritakan permainan imajiner atau ide anehnya, ia sedang mencoba berpikir. Dan ketika pikirannya dihargai, kepercayaan diri tumbuh secara diam-diam.

4. 'Kesalahan bisa terjadi' menghapus ketakutan untuk mencoba

Banyak anak takut berbuat salah jauh sebelum orang dewasa menyadarinya. Mereka ragu menjawab, menghapus berulang kali, atau menunggu orang lain lebih dulu.

Ketika kesalahan disambut dengan nada tenang alih-alih desahan atau kemarahan, ketegangan mencair.

Air yang tumpah tidak selalu butuh ceramah. Kadang cukup handuk, senyum kecil, dan melanjutkan aktivitas. Dari situ anak belajar bahwa kesalahan bukanlah label yang menempel selamanya dan mencoba kembali terasa aman.

5. 'Kamu bisa mencari solusinya' menumbuhkan kepercayaan dari dalam

Kepercayaan diri bukan berarti selalu tahu jawabannya, melainkan percaya pada kemampuan untuk menemukannya.

Saat orang dewasa memberi ruang dan kepercayaan, anak berhenti mencari validasi di wajah orang lain dan mulai mendengarkan pikirannya sendiri.

Masalah kecil, teka-teki, atau konflik di sekolah berubah menjadi latihan kepercayaan diri. Pesannya bukan pengabaian, melainkan keyakinan 'aku percaya padamu'.

Baca Juga: Sederet Kutipan Bill Gates tentang Kepemimpinan yang Relevan untuk Anak