Growthmates, merencanakan pernikahan memang melelahkan. Mulai dari menyusun daftar tamu, memilih menu makanan, hingga mencari pakaian terbaik untuk hari spesial, semuanya menyita waktu dan energi.
Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan itu, ada satu hal penting yang sering diabaikan banyak pasangan, yakni urusan keuangan.
Membicarakan uang memang tidak seromantis membahas bulan madu atau dekorasi pesta. Tetapi kenyataannya, kondisi finansial adalah salah satu fondasi utama dalam pernikahan.
Cara pasangan mengelola uang hari ini bisa menentukan kualitas hubungan mereka di masa depan.
Nah, agar kehidupan rumah tangga tidak hanya indah di awal, tetapi juga kuat dalam jangka panjang, ada beberapa pelajaran keuangan yang perlu dipahami sebelum mengucapkan janji suci, sebagaimana dikutip dari Times of India, Rabu (20/5/2026).
1. Pahami Pola Pikir Keuangan Masing-Masing
Setiap orang tumbuh dengan pengalaman finansial yang berbeda. Ada yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat hemat, sementara yang lain terbiasa hidup tanpa terlalu memikirkan kondisi keuangan.
Tanpa disadari, pengalaman masa kecil tersebut membentuk cara seseorang memandang uang hingga dewasa, yang sering disebut sebagai money script atau pola pikir keuangan bawah sadar.
Karena itu, sebelum menikah pasangan perlu saling terbuka mengenai latar belakang finansial masing-masing, mulai dari bagaimana kondisi ekonomi keluarga saat kecil, apakah uang sering menjadi sumber pertengkaran di rumah, apa ketakutan terbesar terkait finansial, hingga seperti apa definisi 'hidup nyaman' menurut mereka.
Percakapan seperti ini penting untuk membantu pasangan memahami alasan di balik kebiasaan keuangan satu sama lain, sehingga potensi konflik soal pengeluaran dapat dicegah sejak awal.
2. Jangan Bertengkar soal Hal Kecil
Tidak ada pasangan yang akan selalu sepakat dalam setiap pengeluaran. Ada yang senang membeli kopi mahal setiap hari, ada pula yang gemar berbelanja secara daring, dan perbedaan seperti itu adalah hal yang wajar dalam hubungan.
Karena itu, banyak ahli keuangan menyarankan pendekatan aturan 80/20, yaitu memfokuskan perhatian pada hal-hal besar yang benar-benar memengaruhi masa depan bersama.
Daripada terus memperdebatkan pengeluaran kecil sehari-hari, pasangan sebaiknya lebih banyak berdiskusi mengenai cara melunasi utang, target membeli rumah, dana pendidikan anak, rencana pensiun, hingga kesiapan dana darurat keluarga.
Jika sejak awal sudah sejalan dalam tujuan-tujuan besar tersebut, pengeluaran kecil biasanya tidak lagi menjadi sumber konflik utama dalam rumah tangga.
Baca Juga: Cara Menerapkan Mindful Spending agar Keuangan Tetap Sehat dan Stabil