Growthmates, memasuki bulan kedua di tahun 2026, banyak orang mulai menata ulang arah hidup, karier, kesehatan mental, hingga kondisi finansial. Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh distraksi, kebutuhan untuk berkembang secara sadar terasa semakin penting.
Bacaan pengembangan diri kini tidak lagi sekadar menawarkan tips instan, melainkan mengajak pembaca melakukan perubahan yang lebih mendasar, mencakup membangun ketahanan mental, kejernihan berpikir, serta hidup dengan tujuan yang lebih jelas.
Dan, 10 buku berikut dapat menjadi bekal untuk siapa saja yang ingin berhenti sekadar bereaksi terhadap keadaan dan mulai membentuk hidup secara lebih sadar. Topiknya beragam, mulai dari mengelola kebiasaan, kecerdasan emosional, hingga hubungan dengan uang dan orang lain.
Dikutip dari Times Now News, Senin (2/2/2026), jika Anda ingin menjadikan 2026 sebagai tahun transformasi pribadi, daftar bacaan ini layak masuk daftar prioritas.
1. The Year of Less karya Cait Flanders
Buku ini mengajak pembaca melihat kembali hubungan mereka dengan konsumsi dan kepemilikan barang.
Cait Flanders menceritakan eksperimennya selama satu tahun tanpa membeli barang baru, sambil membersihkan rumah dan menata ulang kondisi finansialnya.
Dari proses tersebut, ia menyadari bahwa penumpukan barang sering kali berakar pada kekosongan emosional.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa hidup dengan lebih sedikit justru dapat membuka ruang bagi ketenangan, fokus, dan makna hidup yang lebih dalam. Buku ini cocok bagi siapa pun yang ingin memulai hidup lebih sederhana dan sadar.
2. Psycho-Cybernetics karya Maxwell Maltz
Maxwell Maltz menekankan bahwa citra diri memainkan peran besar dalam menentukan tindakan dan hasil hidup seseorang.
Buku klasik ini menjelaskan bagaimana pikiran bekerja layaknya sistem navigasi yang mengarahkan perilaku kita.
Dengan berbagai latihan mental, pembaca diajak memperbarui 'program' pikiran yang selama ini memicu keraguan diri atau sabotase diri.
Buku ini membantu membangun citra diri yang lebih sehat dan mendukung tujuan hidup, baik dalam karier, hubungan, maupun pencapaian pribadi.
3. The Book of Boundaries karya Melissa Urban
Banyak orang kesulitan mengatakan 'tidak' karena takut dianggap egois atau merusak hubungan. Melissa Urban menawarkan panduan praktis untuk menetapkan batasan secara tegas namun tetap menghargai orang lain.
Buku ini menyediakan contoh kalimat dan strategi nyata untuk melindungi waktu serta energi emosional tanpa harus merasa bersalah.
Dengan batasan yang jelas, hubungan justru menjadi lebih sehat karena dibangun atas saling menghormati.
4. Emotional Intelligence karya Daniel Goleman
Daniel Goleman menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan memahami dan mengelola emosi.
Buku ini menjelaskan pentingnya kesadaran diri, empati, dan keterampilan sosial dalam kehidupan profesional maupun pribadi.
Dengan memahami cara kerja emosi, pembaca dapat berkomunikasi lebih efektif, menghadapi konflik dengan lebih tenang, serta membangun hubungan yang lebih kuat.
Buku ini relevan bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas interaksi dan kepemimpinan di era modern.
5. The Happiness Trap karya Russ Harris
Russ Harris membongkar mitos bahwa kebahagiaan harus selalu dikejar dan dipertahankan.
Melalui pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT), ia menunjukkan bahwa usaha terus-menerus menghindari emosi negatif justru menimbulkan stres dan kelelahan.
Buku ini mengajak pembaca menerima pikiran serta perasaan sulit sebagai bagian dari hidup, sambil tetap bertindak sesuai nilai-nilai pribadi.
Hasilnya bukan sekadar rasa senang sementara, melainkan kehidupan yang lebih bermakna dan stabil secara emosional.
Baca Juga: 10 Pelajaran dari Buku 'The Comfort Crisis' tentang Bahaya Hidup Terlalu Nyaman
6. Love Is Never Enough karya Aaron Beck
Aaron Beck, pelopor terapi kognitif, menjelaskan bagaimana pola pikir memengaruhi kualitas hubungan romantis.
Banyak konflik muncul bukan hanya karena perbedaan pendapat, tetapi juga karena asumsi dan interpretasi yang keliru.
Buku ini membantu pasangan mengenali pola pikir negatif, memperbaiki cara berkomunikasi, dan membangun hubungan yang lebih sehat.
Bacaan ini penting bagi siapa pun yang ingin memperkuat hubungan jangka panjang dengan fondasi pemahaman yang lebih baik.
7. The Gift of Fear karya Gavin de Becker
Gavin de Becker menekankan pentingnya mempercayai intuisi sebagai sistem peringatan alami manusia terhadap bahaya.
Buku ini mengajarkan cara mengenali sinyal-sinyal awal yang sering diabaikan ketika situasi tidak aman.
Alih-alih menimbulkan rasa takut berlebihan, buku ini justru mendorong kesadaran situasional dan kepercayaan pada insting diri sendiri.
Bacaan ini relevan bagi siapa saja yang ingin meningkatkan rasa aman dan kepercayaan diri dalam kehidupan sehari-hari.
8. Grit karya Angela Duckworth
Angela Duckworth menunjukkan bahwa kesuksesan lebih sering ditentukan oleh ketekunan dan konsistensi daripada bakat semata.
Melalui berbagai penelitian dan kisah nyata, ia memperkenalkan konsep 'grit' sebagai kombinasi antara gairah dan ketahanan dalam jangka panjang.
Buku ini memberi pemahaman bahwa kegagalan dan proses panjang merupakan bagian alami dari perjalanan menuju keberhasilan.
Pesannya sederhana, namun kuat, yakni siapa pun bisa berkembang jika mau bertahan dan terus belajar.
9. Atomic Habits karya James Clear
James Clear menjelaskan bahwa perubahan besar lahir dari perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Buku ini menguraikan cara kerja kebiasaan dan bagaimana lingkungan dapat dirancang agar kebiasaan baik menjadi lebih mudah dilakukan.
Alih-alih mengandalkan motivasi sesaat, pembaca diajak membangun sistem yang membuat perubahan berlangsung otomatis.
Buku ini menjadi panduan praktis bagi siapa pun yang ingin memperbaiki produktivitas, kesehatan, maupun rutinitas harian secara bertahap.
10. Your Money or Your Life karya Vicki Robin & Joe Dominguez
Buku ini menawarkan cara pandang baru terhadap uang dan pekerjaan. Robin dan Dominguez mengajak pembaca melihat bahwa setiap pengeluaran sebenarnya merupakan pertukaran dengan energi hidup yang kita gunakan untuk bekerja.
Melalui pendekatan ini, pembaca diajak menyelaraskan keuangan dengan nilai dan tujuan hidup, bukan sekadar mengejar pendapatan lebih besar.
Buku ini menjadi panduan menuju kebebasan finansial yang berakar pada kesadaran, bukan sekadar angka di rekening.
Baca Juga: 10 Buku yang Mengajarkan Cara Siap Menghadapi Peluang