Kolaborasi pengelolaan sampah berbasis komunitas kembali diperkuat melalui peresmian waste station hasil kerja sama antara merek deterjen SoSoft, pengembang kawasan Kota Baru Parahyangan, dan perusahaan teknologi pengelolaan sampah Rekosistem.

Inisiatif ini diharapkan menjadi langkah konkret membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih baik sekaligus mendorong kebiasaan daur ulang di tengah masyarakat.

CEO & Co-Founder Rekosistem, Ernest Layman, menjelaskan bahwa kehadiran waste station ini merupakan bentuk kolaborasi untuk menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan sampah, sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Waste station ini merupakan inisiatif kolaborasi antara SoSoft, Kota Baru Parahyangan, dan Rekosistem untuk bumi kita. Kami melihat SoSoft sebagai brand yang membawa semangat material yang lebih alami, sehingga kolaborasi ini bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat melalui teknologi daur ulang yang kami kembangkan,” beber Ernest, saat peresmian Rekosistem X SoSoft Waste Station, di kawasan Sekolah Al-Irsyad Satya Kota Baru Parahyangan di area Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (13/2/2026).

Melalui fasilitas ini, masyarakat dapat menyetorkan berbagai jenis sampah yang telah dipilah agar dapat diproses kembali menjadi material yang memiliki nilai guna. Kolaborasi tersebut menargetkan pengumpulan minimal 16 ton sampah untuk didaur ulang dalam satu tahun ke depan.

“Dalam satu tahun ke depan, kami memiliki target minimal mengumpulkan 16 ton sampah untuk didaur ulang. Sampah yang sebelumnya hanya dibuang kini bisa dimanfaatkan kembali menjadi material dengan nilai ekologis,” jelasnya.

Menurut Ernest, kolaborasi ini tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan pengelola kawasan yang memiliki visi lingkungan yang sama. Kota Baru Parahyangan sendiri telah menempatkan isu lingkungan sebagai salah satu fokus utama pengembangan kawasannya.

“Kolaborasi ini tidak lengkap tanpa dukungan pengelola kawasan yang punya visi yang sama tentang lingkungan. Kota Baru Parahyangan memiliki fokus kuat pada keberlanjutan, sehingga inisiatif waste station ini bisa terus dikembangkan di berbagai area publik di kawasan ini,” katanya.

Lebih lanjut, Ernest menilai, keberadaan waste station bukan hanya menghasilkan nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dengan lebih bertanggung jawab.

“Nilai terbesar dari kolaborasi ini bukan hanya dari sampah yang terkumpul, tetapi juga dari meningkatnya awareness masyarakat yang melihat langsung pentingnya pengelolaan sampah dan akhirnya mau ikut memilah serta mendaur ulang,” tambah Ernest.

Dijelaskan Ernest, waste station ini menerima berbagai jenis sampah, mulai dari plastik kemasan, kardus, kertas, kaca, logam, minyak jelantah, hingga limbah elektronik.

Sampah yang disetorkan kemudian dikumpulkan dan diproses di fasilitas pengolahan sebelum disalurkan kembali menjadi bahan baku baru atau dimanfaatkan melalui berbagai metode, termasuk pengolahan menjadi sumber energi alternatif.

Ernest menjelaskan, beberapa jenis kemasan plastik seperti HDPE dapat diolah kembali menjadi bijih plastik baru, sementara kemasan sachet dapat diproses menjadi bahan baku alternatif atau dimanfaatkan dalam teknologi waste-to-energy.

Selain membantu lingkungan, masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas daur ulang ini. Melalui aplikasi Rekosistem, setiap setoran sampah dapat dikonversi menjadi poin yang dapat ditukar menjadi saldo digital atau berbagai voucher menarik.

Ernest berharap inisiatif ini menjadi awal dari gerakan yang lebih luas, bukan sekadar proyek jangka pendek.

“Kami berharap ini bukan akhir dari sebuah inisiatif baik, tetapi justru awal terbentuknya ekosistem yang lebih baik untuk bumi yang lebih hijau dan alami,” tutupnya.