Meski demikian, dr. Asa menegaskan bahwa operasi bukanlah terapi pertama untuk semua kasus saraf terjepit. Tindakan bedah biasanya dilakukan hanya pada pasien dengan kondisi berat yang tidak membaik setelah menjalani berbagai terapi non-operasi.

Menurutnya, operasi endoskopi dilakukan apabila pasien telah menjalani pengobatan konservatif, seperti obat-obatan, fisioterapi, modifikasi aktivitas, hingga berbagai metode terapi lain selama minimal dua bulan namun keluhan tetap tidak membaik.

Dengan kata lain, operasi menjadi langkah terakhir ketika seluruh upaya non-bedah telah dilakukan tetapi hasilnya tidak memuaskan.

Nah, agar terhindar dari risiko saraf terjepit dan tidak sampai memerlukan operasi, dr. Asa membagikan sejumlah langkah pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Hindari obesitas, jangan duduk terlalu lama, rajin stretching, perkuat otot inti tubuh atau core muscle, serta hindari kebiasaan merokok," pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga pola hidup sehat secara menyeluruh, termasuk pola tidur, pola makan, dan kecukupan nutrisi.

"Bila memungkinkan, mulai tidur sebelum pukul 10 malam, kurangi makanan olahan dan ultra processed food, penuhi kebutuhan vitamin D, cukup minum air putih minimal 1,5 liter per hari, dan pastikan kebutuhan protein tercukupi," ujar dr. Asa.

Selain itu, kata dr. Asa, masyarakat juga perlu memperhatikan ergonomi saat beraktivitas.

"Gunakan postur yang benar saat mengangkat barang, duduk, maupun bekerja. Posisi tubuh yang ergonomis sangat penting untuk menjaga kesehatan tulang belakang dan mencegah terjadinya saraf terjepit," tandasnya.

Baca Juga: Waspada Doomscrolling Bisa Picu Saraf Kejepit di Usia Muda, Ini Penjelasan Dokter Tirta