Pandemi baru bisa muncul kapan saja. Karena itu, Indonesia mulai menguji seberapa cepat sistem kesehatan nasional dapat bergerak ketika menghadapi ancaman penyakit menular yang berpotensi berkembang menjadi pandemi.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menggelar simulasi kesiapsiagaan pandemi melalui Tabletop Exercise (TTX) bertajuk Misi 100 Hari.
Sesuai namanya, simulasi ini menguji kemampuan Indonesia untuk mengembangkan hingga memproduksi vaksin dalam waktu 100 hari sejak patogen baru teridentifikasi.
Baca Juga: Sudah Terbukti Saat Pandemi Covid-19, Pakar Sebut WFH Tak akan Ganggu Produktivitas Perusahaan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kesiapsiagaan menghadapi pandemi perlu dipandang sebagai bagian dari pertahanan negara. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa wabah penyakit dapat menimbulkan korban jiwa dalam jumlah sangat besar, bahkan melampaui sejumlah konflik bersenjata.
"Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death diperkirakan membunuh sekitar 200 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia II. Karena itu kita harus berinvestasi dalam kesehatan layaknya pertahanan untuk menyelamatkan nyawa," ujar Budi di Jakarta, Jumat (04/09/2026).
Baca Juga: Kisah Pegawai Bio Farma Bekerja 20 Jam per Hari saat Pandemi Covid-19
Dalam simulasi tersebut, pemerintah dan para peserta menggunakan skenario fiktif bernama Nipah-X. Patogen ini digambarkan sebagai virus hasil mutasi yang dapat menyebabkan kematian dan menular dengan cepat dari hewan ternak ke manusia melalui kontak langsung.
Dalam skenario yang sama, patogen tersebut juga dapat menular antarmanusia sehingga berpotensi memicu pandemi.
Simulasi berlangsung selama dua hari dan melibatkan lebih dari 120 peserta. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari kementerian dan lembaga, akademisi, industri, lembaga penelitian, hingga otoritas regulasi.
Bukan sekadar menguji kemampuan membuat vaksin, simulasi Misi 100 Hari juga membedah rantai respons pandemi secara menyeluruh. Mulai dari deteksi patogen, pengembangan alat diagnostik, penelitian vaksin, proses regulasi, produksi massal, hingga distribusi.
Indonesia saat ini juga tengah memperkuat ekosistem deteksi dini. Salah satunya melalui pengembangan perangkat uji cepat portabel atau Point-of-Care Testing (POCT) yang dapat digunakan di layanan kesehatan primer.
Di saat yang sama, kapasitas sekuensing genom di berbagai daerah terus ditingkatkan agar karakteristik patogen baru dapat diketahui lebih cepat. Kecepatan mendeteksi dan memahami patogen menjadi bagian penting untuk mempercepat pengembangan vaksin.
Dari sisi produksi, pemerintah menggandeng sejumlah produsen vaksin nasional, termasuk PT Bio Farma, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan PT Biotis Pharmaceuticals. Perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan dapat mendukung manufaktur vaksin dalam skala besar ketika terjadi ancaman pandemi.
Direktur Utama CEPI Richard Hatchett menilai Indonesia memiliki posisi penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan di kawasan. Menurutnya, perkembangan riset, kapasitas manufaktur, dan sistem regulasi di Indonesia menjadi modal penting untuk mendukung target Misi 100 Hari.
"Indonesia adalah mitra strategis CEPI. Latihan simulasi seperti ini membantu membangun hubungan dan kesiapan operasional, serta mengidentifikasi celah yang harus ditutup agar respons terhadap wabah berikutnya bisa jauh lebih cepat," kata Hatchett.
Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar memastikan percepatan pengembangan vaksin tidak akan dilakukan dengan mengorbankan aspek keselamatan pasien.
BPOM tengah mematangkan skema persetujuan bersyarat untuk melengkapi mekanisme Persetujuan Penggunaan Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA).
"Percepatan inovasi tetap harus berjalan seiring dengan pemenuhan standar keamanan, mutu, dan khasiat. Percepatan tidak boleh berarti berkompromi terhadap standar tersebut," ujar Taruna.
Misi 100 Hari menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia, setelah Korea Selatan dan Rwanda, yang menguji secara langsung rantai respons pandemi secara menyeluruh bersama CEPI.
Simulasi ini sekaligus menjadi ujian bagi kesiapan Indonesia menghadapi ancaman penyakit baru. Sebab, ketika pandemi benar-benar terjadi, bukan hanya kecepatan menemukan vaksin yang dibutuhkan, tetapi juga kemampuan mendeteksi wabah, mengambil keputusan, memproduksi vaksin, hingga mendistribusikannya kepada masyarakat dalam waktu sesingkat mungkin.