Child grooming merupakan salah satu bentuk kejahatan seksual terhadap anak yang kerap luput dari perhatian. Kejahatan ini banyak menargetkan anak dan remaja di bawah usia 19 tahun, dengan kelompok usia 15–18 tahun tercatat sebagai yang paling rentan menjadi korban.

Psikolog Anastasia Satriyo, M.Psi., menjelaskan bahwa rentang usia tersebut merupakan fase remaja di mana kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan belum berkembang secara optimal. Di sisi lain, kemampuan menetapkan batasan diri dan melindungi diri sendiri juga masih lemah.

Baca Juga: Mengulik Lebih Dalam mengenai Istilah Child Grooming

“Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh pelaku atau groomer untuk melakukan manipulasi secara perlahan, membangun kedekatan emosional, hingga akhirnya mengeksploitasi korban,” jelasnya.

Child grooming umumnya tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses bertahap yang kerap tidak disadari oleh korban maupun orang terdekat. Karena itu, orang tua perlu memahami tanda-tanda awal yang dapat muncul pada anak.

Tanda-Tanda Anak Mengalami Child Grooming

1. Anak mulai menjauh dari teman dan orang tua

Perubahan perilaku sosial menjadi salah satu sinyal awal. Anak yang sebelumnya terbuka dan aktif dapat mulai menarik diri, enggan berkumpul dengan teman, serta menjaga jarak dengan orang tua.

Hal ini terjadi karena pelaku perlahan membangun kepercayaan dan memposisikan diri sebagai sosok yang “memahami” atau “melindungi”. Ketergantungan emosional pun terbentuk, membuat korban merasa hanya pelaku yang benar-benar mengerti dirinya.

2. Anak merahasiakan barang atau uang baru dari keluarga

Korban kerap menerima hadiah, uang, atau barang tertentu sebagai bagian dari manipulasi. Anak menjadi defensif saat ditanya asal-usul barang tersebut, bahkan berusaha menyembunyikannya dari keluarga.

Baca Juga: Mengenal Sosok Aurelie Moeremans: Aktris Sekaligus Penulis Buku Broken Strings

Kerahasiaan ini sering disertai rasa takut, bersalah, atau pesan dari pelaku agar korban tidak menceritakan apa pun kepada orang lain.

3. Melakukan panggilan telepon secara sembunyi-sembunyi

Perilaku berkomunikasi secara diam-diam, seperti menelepon di kamar mandi atau di kamar dengan pintu tertutup, patut diwaspadai. Saat dipergoki, anak bisa terlihat panik, gugup, atau memberikan alasan yang tidak konsisten.

4. Menghabiskan banyak waktu sendirian di kamar

Perubahan rutinitas juga menjadi tanda peringatan. Anak lebih sering mengurung diri, menolak makan bersama keluarga, atau tampak gelisah saat berada di ruang bersama.

Kondisi ini dapat terjadi karena anak sedang menjalin komunikasi intens dengan pelaku dan merasa terganggu jika berada di dekat orang tua yang berpotensi menyadari perubahan perilakunya.

Baca Juga: Langkah Sederhana Menangani Inner Child: Kunci Mencegah Bunuh Diri di Kalangan Generasi Muda

5. Tidak lagi mau bercerita kepada orang terdekat

Korban cenderung menjadi lebih tertutup dan enggan berbagi cerita. Jawaban yang singkat, menghindar, atau mudah tersinggung sering muncul akibat tekanan psikologis serta ancaman terselubung dari pelaku agar rahasianya tidak terbongkar.

Peran Orang Tua Sangat Krusial

Child grooming sering kali tidak disadari karena berlangsung perlahan dan dibungkus dengan perhatian semu. Oleh karena itu, perubahan kecil dalam perilaku anak perlu dicermati dengan serius.

Orang tua diimbau untuk tidak langsung menghakimi, melainkan membangun komunikasi yang aman, terbuka, dan penuh empati. Dengan kepekaan dan kedekatan emosional, orang tua dapat menjadi pelindung utama agar anak terhindar dari bahaya child grooming.