Bukan Hanya Soal Kuliah, Buffett Juga Membatasi Warisan
Filosofi Buffett tentang kemandirian ternyata tidak berhenti pada pendidikan dan pilihan karier. Prinsip yang sama juga tercermin dalam caranya memandang kekayaan dan warisan.
Meski telah mengumpulkan kekayaan lebih dari US$100 miliar, Buffett selama bertahun-tahun menyatakan tidak berniat memberikan sebagian besar hartanya kepada ketiga anaknya.
Ia pernah menjelaskan prinsipnya dengan gagasan bahwa anak-anak sebaiknya memperoleh ‘jumlah yang cukup agar mereka bisa melakukan apa saja, namun tidak sampai membuat mereka tidak perlu melakukan apa-apa’.
Bagi Buffett, uang seharusnya menciptakan pilihan, bukan menghilangkan seluruh tantangan dalam hidup.
Artinya, ia tidak bermaksud membuat anak-anaknya hidup tanpa perlindungan finansial. Namun, ia juga tidak ingin kekayaan keluarga menjadi alasan bagi mereka untuk berhenti bekerja, mengambil risiko, atau membangun sesuatu atas nama mereka sendiri.
Prinsip tersebut juga menjadi salah satu alasan Buffett berkomitmen untuk menyumbangkan lebih dari 99 persen kekayaannya. Sebagian besar hartanya diarahkan untuk kegiatan filantropi, bukan diwariskan dalam jumlah besar kepada keluarganya.
Ketiga anaknya pun ikut terlibat dalam berbagai kegiatan amal melalui yayasan dan aktivitas filantropi masing-masing.
Nah, pandangan Buffett mengenai warisan pada akhirnya kembali pada gagasan yang sama dengan pendekatannya terhadap pendidikan dan karier: kemandirian.
Ia tidak ingin anak-anaknya hidup tanpa dukungan. Namun, ia juga tidak ingin kekayaan yang mereka terima justru menghilangkan dorongan untuk bekerja dan menentukan jalan hidup sendiri.
Pertanyaan tersebut juga menjadi persoalan yang dihadapi banyak keluarga. Survei Pew Research Center pada 2024 menemukan bahwa 44 persen orang dewasa muda mengaku menerima bantuan finansial dari orang tua mereka pada tahun sebelumnya, dengan biaya rumah tangga menjadi salah satu bentuk dukungan yang umum.
Bantuan finansial tentu dapat memberikan keuntungan bagi generasi muda. Namun, pada saat yang sama, muncul pertanyaan mengenai batas antara membantu anak dan membuat mereka terlalu bergantung.
Di situlah filosofi Buffett menjadi menarik. Menurut pendekatan yang ia tunjukkan selama bertahun-tahun, keberhasilan dalam membesarkan anak bukan semata-mata tentang seberapa besar pendidikan atau kekayaan yang dapat diwariskan.
Lebih dari itu, orang tua perlu membantu anak memiliki kepercayaan diri untuk menentukan pilihan, keberanian untuk membangun kehidupan sendiri, serta kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki.
Bagi Buffett, warisan terbaik tampaknya bukan sekadar uang dalam jumlah besar, melainkan kesempatan untuk menjalani hidup secara mandiri tanpa kehilangan dorongan untuk terus berkembang.
Baca Juga: 8 Kesalahan Warren Buffett dalam Berinvestasi yang Bisa Jadi Pelajaran