Warren Buffett dikenal luas sebagai salah satu investor paling sukses di dunia. Di balik reputasinya sebagai miliarder dan sosok penting di Berkshire Hathaway, ada sisi lain dari kehidupan Buffett yang tak kalah menarik, yakni cara ia membesarkan ketiga anaknya.

Buffett ternyata tidak menjadikan gelar sarjana, pekerjaan bergengsi, atau jalur karier tertentu sebagai ukuran utama keberhasilan anak-anaknya. Daripada mendorong mereka mengikuti jalan yang dianggap ideal oleh masyarakat, ia justru memberi ruang agar ketiga anaknya menentukan pilihan hidup masing-masing.

Menariknya, tak satu pun dari tiga anak Buffett menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi hingga memperoleh gelar sarjana.

Putrinya, Susie, menjadi yang paling dekat dengan kelulusan. Ia hanya kekurangan tiga kredit untuk menyelesaikan gelarnya sebelum akhirnya memutuskan berhenti. Sementara dua putranya, Howard dan Peter, juga meninggalkan bangku kuliah tanpa menyandang gelar.

Buffett bahkan pernah melontarkan candaan mengenai perjalanan pendidikan anak-anaknya.

"Jika kredit kuliah anak-anak saya digabungkan, hasilnya setara dengan satu gelar sarjana," tutur Buffett, dikutip dari laman Money Wise, Jumat (4/9/2026).

Meski demikian, keputusan ketiga anaknya untuk tidak menyelesaikan kuliah tampaknya bukan sesuatu yang membuat Buffett kecewa. Baginya, pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kehidupan yang sukses dan bermakna.

Buffett Lebih Mementingkan Tujuan Hidup daripada Ijazah

Bagi Buffett, yang lebih penting adalah memastikan anak-anaknya memiliki kesempatan untuk menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka.

Susie pernah menceritakan salah satu kenangan masa kecilnya bersama sang ayah. Buffett kerap mengajak anak-anaknya berbicara mengenai berbagai kemungkinan dalam kehidupan, termasuk pilihan pekerjaan yang tersedia bagi perempuan pada masa tersebut.

"Saya masih ingat saat ia duduk di meja makan dan berbicara tentang bagaimana perempuan kala itu hanya memiliki sedikit pilihan pekerjaan: perawat, guru, dan sekretaris," ungkap Susie dalam wawancara dengan FOX Business.

Alih-alih menentukan profesi yang harus dipilih anak-anaknya, Buffett membiarkan mereka menemukan jalannya sendiri.

Hasilnya, ketiga anak Buffett justru membangun karier di bidang yang sangat berbeda.

Susie menghabiskan sebagian besar perjalanan kariernya di bidang filantropi, pendidikan, serta berbagai upaya untuk membantu anak-anak dan keluarga.

Howard memilih dunia pertanian, konservasi, dan filantropi. Fokusnya mencakup pertanian, ketahanan pangan, hingga kegiatan kemanusiaan.

Sementara itu, Peter menekuni dunia musik sebagai komposer dan musisi. Ia bahkan meraih Emmy Award dan tetap aktif dalam berbagai kegiatan filantropi serta isu sosial.

Karier ketiganya memang berbeda jauh. Namun, keberagaman tersebut justru mencerminkan prinsip Buffett, yakni anak-anak tidak harus menjalani kehidupan yang sama dengan orang tuanya untuk mencapai kesuksesan.

Pandangan Buffett juga relevan dengan perubahan cara masyarakat memandang pendidikan tinggi. Gelar sarjana memang masih dianggap penting untuk banyak profesi, tetapi tidak lagi selalu dipandang sebagai satu-satunya tiket menuju pekerjaan dan kehidupan yang baik.

Survei Pew Research Center pada 2024 menemukan bahwa hanya sekitar seperempat orang dewasa di Amerika Serikat yang menganggap gelar sarjana empat tahun ‘sangat penting’ untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi dalam kondisi perekonomian saat ini.

Buffett sendiri tidak pernah menyatakan bahwa kuliah merupakan pilihan yang buruk. Pesan yang lebih luas dari pendekatannya adalah bahwa gelar sarjana hanyalah salah satu jalan, bukan satu-satunya jalan.

Yang menjadi perhatian utama adalah apakah seseorang mampu menemukan sesuatu yang bermakna, mengembangkan kemampuannya, dan menjalani kehidupan secara mandiri.

Baca Juga: Warren Buffett Tolak Bangun Dinasti Kekayaan, Ini yang Akan Terjadi pada Hartanya

Bukan Hanya Soal Kuliah, Buffett Juga Membatasi Warisan

Filosofi Buffett tentang kemandirian ternyata tidak berhenti pada pendidikan dan pilihan karier. Prinsip yang sama juga tercermin dalam caranya memandang kekayaan dan warisan.

Meski telah mengumpulkan kekayaan lebih dari US$100 miliar, Buffett selama bertahun-tahun menyatakan tidak berniat memberikan sebagian besar hartanya kepada ketiga anaknya.

Ia pernah menjelaskan prinsipnya dengan gagasan bahwa anak-anak sebaiknya memperoleh ‘jumlah yang cukup agar mereka bisa melakukan apa saja, namun tidak sampai membuat mereka tidak perlu melakukan apa-apa’.

Bagi Buffett, uang seharusnya menciptakan pilihan, bukan menghilangkan seluruh tantangan dalam hidup.

Artinya, ia tidak bermaksud membuat anak-anaknya hidup tanpa perlindungan finansial. Namun, ia juga tidak ingin kekayaan keluarga menjadi alasan bagi mereka untuk berhenti bekerja, mengambil risiko, atau membangun sesuatu atas nama mereka sendiri.

Prinsip tersebut juga menjadi salah satu alasan Buffett berkomitmen untuk menyumbangkan lebih dari 99 persen kekayaannya. Sebagian besar hartanya diarahkan untuk kegiatan filantropi, bukan diwariskan dalam jumlah besar kepada keluarganya.

Ketiga anaknya pun ikut terlibat dalam berbagai kegiatan amal melalui yayasan dan aktivitas filantropi masing-masing.

Nah, pandangan Buffett mengenai warisan pada akhirnya kembali pada gagasan yang sama dengan pendekatannya terhadap pendidikan dan karier: kemandirian.

Ia tidak ingin anak-anaknya hidup tanpa dukungan. Namun, ia juga tidak ingin kekayaan yang mereka terima justru menghilangkan dorongan untuk bekerja dan menentukan jalan hidup sendiri.

Pertanyaan tersebut juga menjadi persoalan yang dihadapi banyak keluarga. Survei Pew Research Center pada 2024 menemukan bahwa 44 persen orang dewasa muda mengaku menerima bantuan finansial dari orang tua mereka pada tahun sebelumnya, dengan biaya rumah tangga menjadi salah satu bentuk dukungan yang umum.

Bantuan finansial tentu dapat memberikan keuntungan bagi generasi muda. Namun, pada saat yang sama, muncul pertanyaan mengenai batas antara membantu anak dan membuat mereka terlalu bergantung.

Di situlah filosofi Buffett menjadi menarik. Menurut pendekatan yang ia tunjukkan selama bertahun-tahun, keberhasilan dalam membesarkan anak bukan semata-mata tentang seberapa besar pendidikan atau kekayaan yang dapat diwariskan.

Lebih dari itu, orang tua perlu membantu anak memiliki kepercayaan diri untuk menentukan pilihan, keberanian untuk membangun kehidupan sendiri, serta kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki.

Bagi Buffett, warisan terbaik tampaknya bukan sekadar uang dalam jumlah besar, melainkan kesempatan untuk menjalani hidup secara mandiri tanpa kehilangan dorongan untuk terus berkembang.

Baca Juga: 8 Kesalahan Warren Buffett dalam Berinvestasi yang Bisa Jadi Pelajaran