PT Virtue Diagnostics Indonesia memperkuat komitmennya mengembangkan ekosistem manufaktur In Vitro Diagnostics (IVD) di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan investasi, pengembangan lini produk baru, hingga perluasan pasar ekspor di tengah tantangan industri alat kesehatan nasional.
Komitmen tersebut disampaikan dalam rangkaian Industrial Symposium pada INDOHEALTHCARE GAKESLAB Expo 2026. Forum tersebut menjadi momentum bagi perusahaan untuk menunjukkan sinergi antara investasi global dan kemampuan manufaktur lokal dalam mendukung ketahanan sistem kesehatan nasional.
Baca Juga: Memaksakan Olahraga saat Sakit Bisa Berbahaya, Ini Penjelasan Dokter Tirta
Founder & Global CEO Virtue Diagnostics, Johnson Zhang, mengatakan keputusan perusahaan berinvestasi di Indonesia didasarkan pada keyakinan bahwa akses terhadap layanan diagnostik berkualitas perlu dapat dinikmati masyarakat di berbagai wilayah.
"Indonesia adalah negara dengan tantangan geografis yang sangat unik. Ribuan pulau, populasi yang besar, dan masih terbatasnya akses layanan diagnostik di berbagai daerah membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga diproduksi secara lokal. Karena itu, kami memilih untuk membangun manufaktur di Indonesia, bukan sekadar menjual produk ke Indonesia," ujar Johnson Zhang.
Mengusung filosofi "In the Region, for the Region", Virtue Diagnostics membangun fasilitas manufaktur seluas 12.200 meter persegi di Cikarang. Fasilitas yang diresmikan pada 2024 tersebut memiliki kapasitas produksi lebih dari 1.000 unit instrumen diagnostik per tahun serta 6.000 liter reagen per hari.
Pada 2026, perusahaan meningkatkan investasinya di Indonesia dengan mengembangkan lini diagnostik molekuler dan meluncurkan cartridge-based immunology technology. Pengembangan tersebut melengkapi portofolio produk yang telah dimiliki perusahaan sekaligus memperluas ekosistem solusi diagnostik.
Hingga saat ini, Virtue Diagnostics telah mengantongi izin edar untuk 193 produk diagnostik di Indonesia. Platform perusahaan yang mencakup imunologi, biokimia, hematologi, dan diagnostik molekuler juga telah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40%.
Produk-produk tersebut diarahkan untuk mendukung sejumlah program prioritas pemerintah, termasuk Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), eliminasi tuberkulosis pada 2030, serta program skrining kanker serviks melalui pemeriksaan HPV.
Johnson mengatakan investasi di sektor manufaktur teknologi diagnostik berteknologi tinggi merupakan investasi jangka panjang. Karena itu, menurutnya, pengembangan industri membutuhkan ekosistem yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
"Kami percaya Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat manufaktur IVD di Kawasan Asia Tenggara. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan industri melalui kebijakan yang mendukung investasi jangka panjang, pengadaan berbasis nilai (value-based procurement), perlindungan terhadap produk dengan TKDN tinggi, kontrak pengadaan multi-tahun, serta komunikasi yang lebih erat sebelum implementasi kebijakan baru," katanya.
Associate Commercial Director PT Virtue Diagnostics Indonesia, Kurniasari Endah, mengatakan perusahaan menghadapi sejumlah tantangan sejak memasuki pasar Indonesia pada 2024. Kondisi ekonomi global, perubahan dinamika pasar, serta penurunan belanja pemerintah untuk alat kesehatan turut memberikan tekanan terhadap industri IVD nasional.
Selain tantangan pasar, perusahaan juga harus membangun kepercayaan terhadap produk IVD lokal di tengah persaingan dengan merek-merek global yang telah lama hadir di Indonesia.
"Kami menyadari bahwa memasuki pasar Indonesia pada tahun 2024 bukanlah perjalanan yang mudah. Selain menghadapi kondisi pasar yang menantang, kami juga harus membangun kepercayaan terhadap produk IVD lokal di tengah dominasi merek-merek global yang telah hadir selama puluhan tahun," ujar Kurniasari.
Menghadapi kondisi tersebut, Virtue Diagnostics tidak hanya mengandalkan satu segmen pasar. Perusahaan memperkuat penetrasi ke sektor swasta, termasuk rumah sakit, laboratorium klinik, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Strategi tersebut dibangun dengan mengandalkan kualitas produk, inovasi berkelanjutan, serta layanan purna jual yang dinilai menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan pelanggan.
Strategi penguatan pasar tersebut mulai menunjukkan hasil. Hingga pertengahan 2026, PT Virtue Diagnostics Indonesia telah memproduksi lebih dari 150 unit instrumen diagnostik dan 31.000 kit reagen.
Produk tersebut telah digunakan di berbagai rumah sakit dan laboratorium di Indonesia.
"Pencapaian ini menjadi bukti bahwa produk IVD hasil manufaktur Indonesia mampu bersaing dari sisi kualitas, performa, maupun keandalannya. Kami bangga karena semakin banyak tenaga kesehatan yang mempercayakan pelayanan diagnostiknya kepada produk buatan dalam negeri," kata Kurniasari.
Dari sisi kualitas, perusahaan juga telah memperoleh sertifikasi ISO 13485, standar internasional untuk Sistem Manajemen Mutu Alat Kesehatan. Sertifikasi tersebut mencakup proses pengembangan, produksi, hingga pengendalian mutu agar produk memenuhi standar internasional.
Selain memperkuat pasar domestik, Virtue Diagnostics mulai mengembangkan pasar internasional. Perusahaan telah mengekspor reagen bermerek VIRTUEDX dan instrumen diagnostik VERCENTRA ke Filipina.
Ekspansi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas pasar sekaligus menunjukkan daya saing produk diagnostik yang diproduksi di Indonesia.
Ke depan, Virtue Diagnostics berencana terus meningkatkan investasi pada penelitian dan pengembangan, menambah kapasitas manufaktur, menghadirkan inovasi diagnostik, serta memperluas jaringan distribusi di dalam dan luar negeri.
Baca Juga: Purbaya Bujuk Toyota Tinggalkan Thailand, Siap Beri Insentif Apa Pun Asal Pindah ke RI
Perusahaan juga berharap dukungan kebijakan yang semakin kondusif bagi industri alat kesehatan nasional sehingga ekosistem manufaktur IVD dapat berkembang lebih kuat, meningkatkan daya saing nasional, dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Virtue Diagnostics menilai penguatan industri IVD membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, tenaga kesehatan, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Kombinasi investasi global, kemampuan manufaktur lokal, inovasi teknologi, dan sumber daya manusia Indonesia dinilai dapat menjadi fondasi bagi pengembangan industri diagnostik nasional.