Akademisi dan praktisi bisnis, Rhenald Kasali mengatakan, transaksi digital yang sedang marak terjadi sekarang ini seperti dua mata pisau yang sama-sama membahayakan jika tak digunakan dengan bijaksana. Untuk itu, Rhenald Kasali mengingatkan para generasi muda memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut secara hati-hati dan penuh perhitungan, jangan sampai hal ini dimanfaatkan sampai kebablasan yang ujung-ujungnya hanya merugikan. 

Transaksi digital memang sangat memanjakan, semua pembayaran bisa dilakukan via perangkat smartphone, apabila tidak ada kehatian-hatian menggunakannya, maka pengeluaran bisa menjadi lebih boros. Kemudahan yang didapat lewat transaksi digital dapat membuat pengeluaran menjadi tak terkontrol. 

Baca Juga: 'Jokowi Sudah Selesai, Tak Penting Lagi'

"Jadi sekarang kami mulai menata dan bicara dengan anak kami walaupun mereka sudah dewasa. Pentingnya untuk lebih hati-hati dalam spending," kata Rhenald dilansir Olenka.id Minggu (31/8/2024).

Diakuinya generasi muda sekarang ini dimanjakan dengan kemajuan teknologi yang membuat mereka condong lebih mudah untuk berbelanja atau mengeluarkan uang, ini berbeda dengan genarasi yang lebih tua dimana mereka hidup di era serba menggunakan uang tunai dalam berbagai transaksi. 

Transaksi tunai memang tampak ketinggalan zaman, namun ia membawa sederet dampak positif, secara psikologis mereka yang berbelanja secara tunai punya beban tersendiri saat membeli sesuatu, hal ini yang tak pernah diraskan oleh mereka yang melakukan transaksi digital. 

"Anak kita penderitaannya tidak sama dengan kita, kita masa kecil kita hidupnya dulu sangat sulit. Anak kita menyaksikan hanya bagian kecil dari perjuangan kita, setelah itu hidupnya lebih baik. Kita, saya dibesarkan dalam peradaban uang kertas," ujarnya. 

"Apa artinya? Artinya saya mempunyai the pain of paying, rasa sakit mengeluarkan uang. Karena ketika saya mau beli tenun buat ibu, bagus sekali, saya punya cash harganya 5,5 juta. Saya nggak pake mikir karena saya mau belikan buat ibu, saya baru dapet honorarium, saya bilang saya ambil. Mau cash atau mau kredit, kartu kredit? Cash. Begitu saya hitung sudah 40 lembar, uang 50 ribuan, tiba-tiba saya merasa capek juga ya. Ini uangnya banyak sekali, saya kemudian mengatakan nggak jadi deh sama yang jual begitu," ujarnya. 

Tak hanya itu, mereka yang melakukan pembayaran secara digital juga butuh perjuangan lebih, ketika ingin berbelanja dan tidak sedang memegang uang tunai, maka yang bersangkutan harus mencari mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk mengambil uang, hal seperti ini kata Rhenald menjadi salah satu faktor yang membuat orang menunda keinginan berbelanja.  

Baca Juga: Presiden Prabowo Sampaikan Belasungkawa, Perintahkan Usut Tuntas Kasus Affan

"Kenapa? I know that the pain of paying, mau bayar ambil uang di ATM itu ada effortnya kesana. Sedangkan anak kami itu atau kalian barangkali peradabannya uang digital, cuma tap, tap, tap. Tidak merasakan painnya. Tidak ada the pain of paying sehingga spendingnya set, set, set keluar begitu, pasti berbeda tuh," pungkasnya.