Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Berly Martawardaya mengatakan PDI-Perjuangan masih menghitung untuk menyodorkan kadernya menjadi calon wakil presiden pendamping  Prabowo Subianto pada  Pilpres 2029.

Koalisi PDI-P Gerindra itu bakal terealisasi dengan syarat tingkat kepuasan publik terhadap Prabowo yang belakangnya terjun bebas harus mengalami perbaikan, apabila hingga 2028, grafik tingkat kepuasan terhadap Prabowo tak mengalami perbaikan, maka PDI-P jelas bakal putar haluan, sebab berduet dengan Prabowo terlampau berisiko. 

Baca Juga: Prabowo Tetiba Nanya ke Wartawan: MBG dan Kopdes Merah Putih Salahnya di Mana? Saya Bisa Menghemat Ratusan Triliun!

"Kalau kepuasan terhadap presiden dan pemerintah naik di atas 65 persen lagi di awal 2028, maka ada kemungkinan PDI-P buka pintu jadi cawapres,” kata Berly dilansir Olenka.id Jumat (17/9/2026).

PDI-P kata Berly ogah mengambil risiko jika tingkat kepuasan terhadap Prabowo terlampau rendah, ketimbang harus berduet dengan figur yang tingkat kepuasan publiknya hanya stagnan di kisaran 50 persen, PDI-P jelas membuat poros baru dengan parpol lain, dengan demikian maka, Prabowo kembali menghadapi PDI-P sebagai rivalnya pada Pilpres 2029 mendatang.  

"Tapi kalau di bawah 50 persen, maka likely PDIP dan beberapa parpol akan ajukan capres sendiri alias nggak mau jadi cawapres,” ujarnya.

“Orang dan partai politik itu mau jadi cawapres buat menang. Kalau chance menang kecil, ya ngapain capek-capek,” tambahnya.

Berdasarkan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo berada di angka 51,1 persen.

Survei bertajuk “Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden” itu dilakukan pada 5-19 Juli 2026.

Baca Juga: Didepak Prabowo, Purbaya Langsung Digadang-gadang Maju Pilpres 2029 Bareng Anies Baswedan

Angka tersebut turun 30,1 poin persentase dibandingkan November 2025. Saat itu, tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo tercatat mencapai 81,2 persen.

Dengan demikian, dalam rentang sekitar sembilan bulan, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo mengalami penurunan cukup besar.