Perubahan iklim yang semakin ekstrem dalam beberapa tahun terakhir bukan lagi sekadar kekhawatiran masa depan. Di tengah dinamika global saat ini, dampaknya terasa semakin nyata, salah satunya melalui fenomena kenaikan permukaan laut (sea-level rise) yang kini berada pada titik kritis.
Berdasarkan laporan terbaru Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dalam Assessment Report 2026, serta data dari NASA dan World Bank, mencairnya lapisan es di Greenland dan Antartika Barat telah mempercepat peningkatan volume air laut global ke tingkat yang mengkhawatirkan.
Bagi sebagian negara, fenomena ini bukan hanya gangguan lingkungan, melainkan ancaman terhadap eksistensi negara itu sendiri. Berikut adalah daftar negara yang diprediksi akan kehilangan wilayah teritorialnya akibat krisis iklim global.
Baca Juga: Daftar Negara Terkaya di Dunia 2026 Berdasarkan PDB: AS dan China Masih Mendominasi
1. Kiribati
Kiribati merupakan salah satu negara yang paling rentan. Negara kepulauan di kawasan Mikronesia ini terdiri dari pulau-pulau karang dengan ketinggian rata-rata hanya 1–2 meter di atas permukaan laut.
Masalah yang dihadapi bukan hanya potensi tenggelamnya daratan, tetapi juga intrusi air laut ke sumber air tawar (salinisasi). Dampaknya, lahan pertanian menjadi tidak produktif dan air tidak layak konsumsi. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Kiribati telah membeli sekitar 20 km² lahan di Fiji untuk rencana relokasi penduduk.
Baca Juga: Inilah 9 Negara dengan Tingkat Kebahagiaan Tertinggi di 2026
2. Tuvalu
Tuvalu merupakan salah satu negara terkecil dan terendah di dunia. Topografi wilayahnya yang tipis dan rendah membuat negara ini sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut.
Data menunjukkan kenaikan air laut yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Jika tren ini berlanjut, pada 2050 sebagian wilayah ibu kota Funafuti diprediksi akan terendam banjir pasang harian. Untuk mengantisipasi hilangnya wilayah fisik, Tuvalu bahkan mengembangkan konsep Digital Nation, yakni mendigitalisasi identitas negara ke dalam ruang virtual.
3. Maladewa
Maladewa menghadapi ancaman serupa dengan kondisi geografis yang ekstrem. Lebih dari 80% dari sekitar 1.190 pulaunya berada kurang dari 1 meter di atas permukaan laut.
Selain kenaikan air laut, pemanasan suhu laut juga memicu pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Padahal, terumbu karang berfungsi sebagai pelindung alami dari gelombang besar. Tanpa perlindungan ini, pulau-pulau menjadi semakin rentan terhadap abrasi.
Baca Juga: 10 Negara Termiskin di Dunia 2026: Afghanistan Terpuruk, Pendapatan Hanya Sekitar Rp7 Juta per Tahun
Pemerintah Maladewa kini berinvestasi dalam pembangunan pulau buatan yang lebih tinggi, seperti Hulhumale, serta mempertimbangkan opsi pembelian lahan di negara lain sebagai langkah jangka panjang.
4. Kepulauan Solomon
Di kawasan Pasifik Selatan, Kepulauan Solomon menunjukkan bahwa dampak krisis ini sudah terjadi saat ini.
Penelitian terbaru mengonfirmasi bahwa setidaknya lima pulau tak berpenghuni telah hilang sepenuhnya, sementara beberapa pulau lain kehilangan lebih dari 20% luas daratannya. Kombinasi kenaikan permukaan laut dan erosi pantai yang semakin ekstrem memaksa masyarakat pesisir untuk berpindah ke wilayah yang lebih tinggi.
Mengapa Ini Terjadi?
Berdasarkan laporan IPCC, terdapat tiga mekanisme utama yang menyebabkan kenaikan permukaan laut:
- Ekspansi termal, yaitu pemuaian air laut akibat peningkatan suhu global. Laut menyerap lebih dari 90% panas berlebih di atmosfer.
- Mencairnya lapisan es (cryosphere), terutama di Antartika Barat, yang dapat meningkatkan permukaan laut hingga beberapa meter jika terjadi secara masif.
- Kerusakan ekosistem terumbu karang, yang membuat pulau-pulau kehilangan perlindungan alami dari gelombang dan abrasi.
Data dari Germanwatch dan World Bank juga menunjukkan bahwa ancaman ini tidak hanya terbatas pada negara kepulauan kecil. Negara seperti Bangladesh dan Vietnam turut menghadapi risiko kehilangan lahan produktif yang dapat berdampak pada krisis pangan global.
Fenomena ini bukan sekadar prediksi, melainkan peringatan geopolitik. Hilangnya wilayah berarti hilangnya kedaulatan, identitas, hingga status hukum suatu negara. Dalam konteks ini, dunia mulai menghadapi realitas baru terkait keberadaan climate refugees atau pengungsi iklim, yang ke depan akan menjadi isu global yang semakin kompleks.