Nama Yayasan Inspirasy Indonesia mungkin masih asing bagi sebagian orang, namun lembaga nirlaba yang berdedikasi untuk memberdayakan anak-anak dan individu dengan neurodiversity seperti autisme, cerebral palsy, ataupun neurodiversity lainnya itu sudah menjadi rumah bagi ratusan individu berkebutuhan khusus.
Misi mereka tampak sederhana, namun itu butuh dedikasi tinggi dan kerja keras. Yayasan ini yakin betul bahwa di balik setiap individu berkebutuhan khusus, ada kekuatan, ada talenta, dan ada potensi yang menunggu untuk ditumbuhkembangkan.
“Kami berusaha menciptakan ekosistem yang komprehensif untuk menemani individu dari sejak mereka anak-anak, remaja, dewasa, hingga masa tua mereka nantinya,” kata Pembina Yayasan Inspirasy Indonesia, Partomuan Juniult saat berbincang dengan Olenka.id ditulis Senin (5/1/2026).
Seperti namanya, yayasan Inspirasy Indonesia tumbuh membawa asa mulia untuk segenap anak bangsa yang berkebutuhan khusus. Di balik keterbatasan individu-individu “istimewa” para pendiri yayasan ini percaya bahwa ada potensi besar di balik kekurangan itu asalkan ada yang mewadahi dan memberi mereka kesempatan untuk berkembang. Setiap individu yang lahir ke dunia pasti dibekali dengan kemampuan tersendiri.
“Bahwa setiap individu terlepas dari apapun diagnosis mereka, mereka memiliki potensi untuk berkontribusi secara produktif dan berkembang apabila kita memberikan dukungan dan kesempatan yang tepat kepada mereka,” ujar Partomuan Juniult.
Lantas apa saja yang membedakan Yayasan Inspirasy Indonesia dengan yayasan lain?
Yayasan Inspirasy Indonesia bukan menjadi yayasan tertua atau yayasan yang sudah punya nama mentereng, namun kehadirannya mengusung sederet konsep yang berbeda dari yayasan pada umumnya. Yayasan Inspirasy Indonesia berani tampil beda dengan gaya anti mainstream.
Salah satu pembedanya adalah pendekatan life cycle yang komprehensif, dimana yayasan ini tidak hanya menitikberatkan fokus mereka pada satu titik saja misalnya saja pada early intervention, atau fokus hanya pada pendidikan, atau pada pelatihan kerja sebagaimana yang terjadi pada yayasan pada umumnya, namun Yayasan Inspirasy Indonesia memiliki integrated ecosystem yang mendukung individu dari sejak mereka lahir, belajar di masa anak-anak dan remaja, mandiri saat dewasa, dan bahkan saat sudah tidak punya orang tua dan keluarga lagi.
“Yang kedua pembeda kami adalah kami fokus pada employment dan economic independence, jadi di yayasan kami, kami percaya bahwa pekerjaan yang bermakna adalah kunci kemandirian dan dignity,” beber Partomuan Juniult.
Yayasan Inspirasy Indonesia tak mau mengambil peran yang setengah-setengah, mereka tak mau hanya berhenti pada pelatihan kerja atau pelatihan keterampilan saja, mereka menuntun individu berkebutuhan khusus sampai benar-benar masuk pada dunia kerja yang sebenarnya.
“Nah program Link and Match kami, ini bekerja sama langsung dengan perusahaan dan pemberi kerja, sehingga kami membuka peluang kerja yang real dan produktif,” ujarnya.
Hal lainnya yang membuat Yayasan Inspirasy berbeda dengan yayasan lainnya terletak pada cara mereka mengadopsi inovasi hukum dan limited guardianship
“Kami rasa ini program yang pioneer untuk memperkenalkan konsep perwalian terbatas untuk neurodivergent individual di Indonesia. Ini adalah game changer karena program ini memberikan perlindungan tanpa infantilisasi, atau kita menghormati atau memberikan otonomi kepada individu, sambil kita memberikan safety net kepada mereka, dan kita bisa mengurangi kekhawatiran orang tua atau keluarga mereka,” kata Partomuan Juniult.
Poin penting berikutnya yang membedakan Yayasan Inspirasy Indonesia dengan yayasan lain adalah adopsi community driven resource sharing, di mana yayasan membangun ekonomi berbagi dengan sumber daya yang dimaksimalkan.
Baca Juga: Inspirasi Mix & Match Outfit Simpel untuk Liburan Nataru
“Dan yang terakhir adalah kami menggunakan business mindset dengan social heart, di mana kami melihat individu dengan neurodivergent ini tidak sebagai beneficiaris semata, tapi sebagai contributors, jadi kami bekerja dengan perusahaan untuk menunjukkan bahwa neurodiversity individual itu adalah aset kompetitif dan bukan charity obligation,” pungkasnya.