Selain mendukung pemanfaatan AI, Synology juga memperkuat otomatisasi dan pengelolaan infrastruktur dalam skala besar. Fitur DSM Agent membantu tim IT menjalankan berbagai tugas administrasi lintas sistem melalui pengalaman terpandu sekaligus mendukung pengaturan workflow yang lebih kompleks. Dengan guardrail dan kontrol governance bawaan, organisasi tetap memiliki visibilitas terhadap bagaimana AI mengakses dan menggunakan data internal.
Untuk organisasi yang mengelola banyak sistem Synology, Cluster Manager menyatukan pengelolaan infrastruktur dalam satu antarmuka terpusat. Layanan penyimpanan dan aplikasi juga dikemas sebagai workload terisolasi berbasis container sehingga organisasi dapat melakukan migrasi workload lintas sistem, menerapkan quality of service atau QoS, serta menjalankan kebijakan perlindungan data secara lebih fleksibel di seluruh fleet.
Active Insight turut menghadirkan fitur Mass Deployment untuk mempercepat provisioning dan konfigurasi sistem baru terutama di lingkungan yang tersebar. Dari sisi keamanan dan kepatuhan, DSM generasi berikutnya memperluas role-based access control atau RBAC agar pengaturan akses dapat dilakukan dengan lebih granular.
Log Center yang diperbarui juga menyatukan log operasional dan aplikasi dalam satu tampilan untuk kebutuhan monitoring dan audit serta mendukung export data native ke platform observability berstandar industri. Untuk lingkungan dengan kebutuhan keamanan yang lebih ketat, DSM juga dilengkapi secure element bawaan dan proses sertifikasi FIPS 140-3 yang sedang berjalan.
Di tengah infrastruktur enterprise yang semakin tersebar, perlindungan data tidak lagi hanya berfokus pada satu lokasi atau satu platform. Workload kini dapat berada di cloud, virtualisasi, maupun aplikasi SaaS sehingga organisasi membutuhkan strategi backup dan recovery yang lebih menyeluruh.
Melalui ActiveProtect Manager 2.0, Synology memperluas dukungan backup dan recovery ke berbagai platform utama termasuk Azure Virtual Machines, Amazon EC2, Nutanix AHV,
Proxmox VE, dan Google Workspace. Dengan cakupan ini, organisasi dapat melindungi workload di berbagai lingkungan dengan pendekatan yang lebih terpadu.
ActiveProtect Manager 2.0 juga memberikan fleksibilitas pemulihan yang lebih besar. Instance VM kini dapat dipulihkan lintas platform baik ke lingkungan cloud maupun onpremise sehingga organisasi memiliki lebih banyak pilihan dalam menjalankan disaster recovery dan redeployment sistem. Dukungan backup copy ke Azure Blob Storage juga tersedia termasuk kemampuan restorasi data cloud-to-cloud dari destinasi backup copy langsung ke lingkungan VM produksi untuk membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi biaya operasional.
"AI telah membuat ancaman siber berkembang semakin cepat dan semakin sulit diimbangi oleh enterprise. Kondisi ini mendorong organisasi untuk mencari perlindungan data yang tidak hanya andal, tetapi juga mudah diterapkan," ujar Philip Wong.
Executive Vice President of Synology Data Protection Group, Jia-Yu Liu, menambahkan bahwa ActiveProtect Manager 2.0 memperluas cakupan perlindungan ke berbagai platform cloud, hypervisor, dan SaaS utama, sekaligus menghadirkan deteksi ancaman berbasis AI.
"Dengan kemampuan ini, perlindungan data dapat bergerak dari pendekatan pemulihan yang reaktif menuju pertahanan yang lebih proaktif," tegasnya.
Dalam menghadapi serangan siber, keberhasilan restorasi data tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat data dapat dipulihkan tetapi juga apakah data tersebut benar-benar aman untuk digunakan kembali. Jika organisasi memulihkan data dari backup yang telah terinfeksi atau terkompromi, proses restorasi dapat berisiko memperpanjang dampak serangan.
ActiveProtect Manager 2.0 menghadirkan deteksi anomali berbasis machine learning yang menganalisis versi backup historis untuk mendeteksi pola tidak wajar sejak dini. Sistem ini dapat mengidentifikasi perubahan data yang abnormal, penghapusan massal, hingga indikasi aktivitas berbahaya.
File yang terdeteksi terdampak akan dikarantina secara otomatis agar data yang berpotensi terkompromi tidak ikut dipulihkan. ActiveProtect Manager 2.0 juga dapat terintegrasi dengan antivirus pihak ketiga untuk memindai backup dari malware sehingga hanya versi data yang bersih dan terverifikasi yang tersedia untuk proses recovery.
Fitur Auto Fallback turut melengkapi perlindungan ini dengan secara otomatis mengarahkan pemulihan ke versi backup terbaru yang bebas dari kerentanan ketika periode restorasi yang terkompromi terdeteksi. Dengan demikian, organisasi dapat memulihkan sistem dari baseline data yang lebih aman, bersih, dan tervalidasi.