Dunia digital dan fisik kini semakin menyatu, memicu kebutuhan mendesak bagi pemerintah dan pelaku industri untuk meninggalkan model operasional konvensional yang terfragmentasi. 

Riset terbaru dalam laporan 2026 Future of Infrastructure Survey yang dirilis oleh Deloitte pada 30 Oktober 2026 mengungkap adanya kesenjangan mendasar antara tuntutan infrastruktur yang saling terhubung dengan kesiapan model operasional saat ini.

Survei ini melibatkan 985 pemimpin infrastruktur dari sektor pemerintahan, swasta, dan nirlaba di 21 negara, yang mencakup sektor infrastruktur digital, energi dan utilitas, mobilitas dan transportasi, serta infrastruktur sosial.

Baca Juga: Deloitte: Perubahan Regulasi Indonesia Dorong Pendekatan Hukum yang Lebih Terintegrasi

Poin-Poin Utama Temuan Survei Deloitte

  • Melampaui Batas Silo: Sebanyak 69% responden memperkirakan lonjakan permintaan terhadap infrastruktur pintar dan saling terhubung, menjadikan koordinasi lintas sistem sebagai kunci utama.
  • Tantangan Finansial: Meskipun cakupan investasi meluas, 31% pemimpin menyebut keterbatasan anggaran sebagai hambatan, sementara 22% lainnya terkendala oleh ketidakjelasan rencana implementasi serta imbal hasil investasi (return on investment / ROI).
  • Kompleksitas Institusional: Regulasi, kebijakan, dan proses perizinan yang rumit (39%), serta prosedur pengadaan yang kompleks (29%), dinilai menjadi ganjalan terbesar dalam realisasi proyek.
  • Kesenjangan Ketahanan Risiko: Sebanyak 60% pemerintah menempatkan keamanan siber sebagai prioritas investasi utama. Namun, hanya 33% yang berinvestasi dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, padahal 56% responden mengakui cuaca ekstrem sebagai ancaman nyata.

Pergeseran Paradigma Menuju Ekosistem Terintegrasi (System of Systems)

Infrastruktur global kini bertransisi dari sekadar aset individual menjadi ekosistem yang saling bergantung. 

“Infrastruktur tidak lagi sekadar sekumpulan aset yang terisolasi. Survei terbaru kami menunjukkan bahwa sistem fisik dan digital telah menyatu, yang mengharuskan para pemimpin untuk berpikir melampaui model tradisional dan mengelola infrastruktur sebagai satu kesatuan yang saling terhubung,” ungkap Kelly Marchese, Infrastructure practice leader di Deloitte Consulting LLP.

Marchese menambahkan bahwa tantangan utama saat ini terletak pada manajemen ekosistem dan penyelarasan investasi lintas sektor.

“Tantangan mendesak yang dihadapi klien kami adalah bagaimana mendanai, membangun, dan melindungi sistem yang kompleks melintasi batas sektor maupun wilayah. Efektivitasnya akan sangat bergantung pada koordinasi yang lebih kuat, pendekatan baru terhadap risiko, serta kemampuan untuk meningkatkan skala teknologi dan talenta,” sambungnya.

Ia juga menekankan implikasi strategis bagi organisasi yang mampu beradaptasi cepat dalam era baru ini:

“Mereka yang mampu beradaptasi dengan era sistem baru ini akan berada di posisi strategis untuk membuka potensi ekonomi infrastruktur mereka,” tambahnya.

Transformasi ini menuntut pendekatan baru dalam pendanaan, dari sekadar ketersediaan modal menjadi penyesuaian model pembiayaan dan pembagian risiko yang seimbang antara sektor publik dan swasta. 

Di sisi lain, adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) diproyeksikan melonjak, di mana pemanfaatan AI untuk otomatisasi proses persetujuan ditargetkan meningkat dari 36% menjadi 42% dalam tiga tahun ke depan guna mengatasi hambatan perizinan.