Pada sisi kompulsi, perilakunya bisa berupa mencuci tangan berkali-kali, memeriksa sesuatu secara berulang, mengulang kata atau hitungan dalam pikiran, hingga terus-menerus meminta kepastian dari orang lain.

“Pada sisi kompulsi, gejalanya dapat berupa mencuci tangan berkali-kali, memeriksa sesuatu secara berulang, mengulang kata atau hitungan dalam pikiran, hingga terus-menerus meminta kepastian dari orang lain,” ungkapnya.

Perilaku tersebut dapat membentuk siklus yang sulit dihentikan. Pikiran yang mengganggu memicu kecemasan, kemudian seseorang melakukan tindakan tertentu untuk meredakan perasaan tersebut. Setelah kompulsi dilakukan, rasa lega mungkin muncul, tetapi biasanya hanya sementara. Ketika pikiran mengganggu kembali, dorongan untuk mengulangi tindakan yang sama pun dapat muncul lagi.

“Kesulitannya bukan sekadar karena seseorang terlalu banyak berpikir. Ada pola yang membuat pikiran, kecemasan, dan respons kompulsif saling memperkuat,” ujarnya.

Menurut Agung, OCD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Faktor biologis, psikologis, dan lingkungan dapat berperan dalam meningkatkan kerentanan seseorang terhadap gangguan ini. Namun, memiliki riwayat keluarga dengan OCD atau mengalami stres tidak otomatis membuat seseorang mengalami kondisi tersebut.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak terburu-buru melabeli diri sendiri maupun orang lain mengalami OCD hanya karena memiliki kebiasaan tertentu. Kebiasaan menyukai kebersihan atau keteraturan saja tidak cukup untuk menunjukkan adanya gangguan ini.

Jika pikiran atau perilaku berulang mulai sulit dikendalikan, menimbulkan tekanan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang tepat.

Penanganan OCD dapat dilakukan melalui psikoterapi, obat-obatan sesuai evaluasi psikiater, atau kombinasi keduanya. Salah satu pendekatan psikoterapi yang banyak digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), khususnya Exposure and Response Prevention (ERP).

Pendekatan ERP membantu individu menghadapi situasi atau pemicu kecemasan secara bertahap, sekaligus belajar menahan dorongan melakukan kompulsi dengan pendampingan profesional.

“Dengan penanganan yang tepat dan konsisten, OCD dapat dikelola sehingga gejalanya tidak harus terus-menerus mengendalikan kehidupan seseorang,” pungkas Agung.

Baca Juga: Lelah Fisik atau Masalah Mental? Ini Cara Membedakan Kurang Tidur dan Depresi Menurut Ahli