Growthmates, suka melihat rumah selalu rapi, mencuci tangan sebelum makan, atau memastikan pintu sudah terkunci sebelum tidur merupakan kebiasaan yang umum dilakukan. Namun, bagaimana jika seseorang merasa harus mengulanginya berkali-kali, diliputi keraguan, atau justru mengalami kecemasan ketika tidak bisa melakukannya?

Ketika dorongan tersebut sulit dikendalikan hingga menyita waktu dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kebiasaan itu perlu mendapat perhatian lebih.

Dalam kondisi tertentu, pola pikiran dan perilaku berulang tersebut dapat berkaitan dengan obsessive-compulsive disorder (OCD). Sayangnya, gangguan mental ini masih kerap disalahartikan sebagai kebiasaan terlalu menyukai kebersihan, kerapian, atau keteraturan.

Padahal, OCD bukan sekadar persoalan seseorang yang ingin segala sesuatu terlihat sempurna, melainkan kondisi yang dapat menimbulkan tekanan emosional dan mengganggu berbagai aspek kehidupan.

Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Agung Minto Wahyu, SM, SPsi, MSi, menjelaskan bahwa pembeda utama antara kebiasaan sehari-hari dan OCD bukan terletak pada seberapa rapi atau teraturnya seseorang, melainkan pada kendali terhadap perilaku tersebut.

“Yang membedakan bukan seberapa rapi atau teraturnya seseorang, tetapi apakah dia masih memiliki kendali dan pilihan atas perilaku tersebut,” jelas Agung, dikutip dari laman resmi IPB University, Jumat (30/10/2026).

Ia menerangkan, OCD ditandai dengan munculnya obsesi, kompulsi, atau keduanya. Obsesi merupakan pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul berulang kali, tidak diinginkan, dan sulit dikendalikan. Sementara itu, kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental yang dilakukan berulang kali sebagai respons terhadap obsesi atau untuk meredakan kecemasan yang dirasakan.

OCD dapat menjadi gangguan yang serius ketika gejalanya menyita banyak waktu, menimbulkan tekanan yang berarti, atau mengganggu fungsi kehidupan seseorang, mulai dari pekerjaan, studi, hingga hubungan sosial.

Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR), obsesi atau kompulsi yang menyita waktu, misalnya lebih dari satu jam sehari, merupakan salah satu indikator yang dapat diperhatikan dalam penilaian OCD. Meski begitu, diagnosis tidak ditentukan hanya berdasarkan durasi, tetapi juga mempertimbangkan keseluruhan gejala dan dampaknya.

Gejala OCD pun tidak selalu mudah dikenali. Tidak semua orang dengan OCD menunjukkan perilaku mencuci tangan berulang kali atau merapikan barang secara berlebihan. Sebagian justru mengalami pergulatan pikiran yang tidak terlihat oleh orang lain.

Agung mengungkapkan, obsesi dapat berupa kekhawatiran berlebihan terhadap kotoran atau kontaminasi, keraguan yang muncul terus-menerus, kebutuhan agar sesuatu terasa benar, hingga pikiran yang tidak diinginkan tentang menyakiti diri sendiri atau orang lain. Munculnya pikiran tersebut tidak serta-merta mencerminkan keinginan atau niat seseorang untuk melakukannya.

Baca Juga: Trauma Bukan Hanya soal Mental, Kenali Golden Period dalam Dunia Medis

Pada sisi kompulsi, perilakunya bisa berupa mencuci tangan berkali-kali, memeriksa sesuatu secara berulang, mengulang kata atau hitungan dalam pikiran, hingga terus-menerus meminta kepastian dari orang lain.

“Pada sisi kompulsi, gejalanya dapat berupa mencuci tangan berkali-kali, memeriksa sesuatu secara berulang, mengulang kata atau hitungan dalam pikiran, hingga terus-menerus meminta kepastian dari orang lain,” ungkapnya.

Perilaku tersebut dapat membentuk siklus yang sulit dihentikan. Pikiran yang mengganggu memicu kecemasan, kemudian seseorang melakukan tindakan tertentu untuk meredakan perasaan tersebut. Setelah kompulsi dilakukan, rasa lega mungkin muncul, tetapi biasanya hanya sementara. Ketika pikiran mengganggu kembali, dorongan untuk mengulangi tindakan yang sama pun dapat muncul lagi.

“Kesulitannya bukan sekadar karena seseorang terlalu banyak berpikir. Ada pola yang membuat pikiran, kecemasan, dan respons kompulsif saling memperkuat,” ujarnya.

Menurut Agung, OCD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Faktor biologis, psikologis, dan lingkungan dapat berperan dalam meningkatkan kerentanan seseorang terhadap gangguan ini. Namun, memiliki riwayat keluarga dengan OCD atau mengalami stres tidak otomatis membuat seseorang mengalami kondisi tersebut.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak terburu-buru melabeli diri sendiri maupun orang lain mengalami OCD hanya karena memiliki kebiasaan tertentu. Kebiasaan menyukai kebersihan atau keteraturan saja tidak cukup untuk menunjukkan adanya gangguan ini.

Jika pikiran atau perilaku berulang mulai sulit dikendalikan, menimbulkan tekanan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang tepat.

Penanganan OCD dapat dilakukan melalui psikoterapi, obat-obatan sesuai evaluasi psikiater, atau kombinasi keduanya. Salah satu pendekatan psikoterapi yang banyak digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), khususnya Exposure and Response Prevention (ERP).

Pendekatan ERP membantu individu menghadapi situasi atau pemicu kecemasan secara bertahap, sekaligus belajar menahan dorongan melakukan kompulsi dengan pendampingan profesional.

“Dengan penanganan yang tepat dan konsisten, OCD dapat dikelola sehingga gejalanya tidak harus terus-menerus mengendalikan kehidupan seseorang,” pungkas Agung.

Baca Juga: Lelah Fisik atau Masalah Mental? Ini Cara Membedakan Kurang Tidur dan Depresi Menurut Ahli