Growthmates, trauma tidak selalu berkaitan dengan kondisi psikologis atau kesehatan mental. Dalam dunia medis, trauma juga merujuk pada cedera fisik yang dapat menimbulkan luka hingga kerusakan serius pada tubuh. Salah satu hal penting dalam penanganan trauma adalah golden period, yakni periode krusial ketika pertolongan medis perlu diberikan untuk mencegah kondisi pasien memburuk.

Dokter Spesialis Bedah Saraf (Neurosurgeon) Rumah Sakit PON Jakarta, dr. Ryan Rhiveldi Keswani, Sp.BS, menjelaskan bahwa pemahaman mengenai trauma perlu diperluas agar masyarakat menyadari pentingnya penanganan yang cepat dan tepat, terutama pada kasus cedera kepala yang berisiko mengancam nyawa.

Dalam rangka memperingati Hari Trauma Sedunia yang jatuh pada 17 Oktober 2026, dr. Ryan mengingatkan masyarakat bahwa trauma dalam konteks medis tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga mencakup cedera jasmani yang membutuhkan perhatian serius.

“Mungkin sebagian besar teman-teman mengenal trauma sebagai suatu kondisi yang berhubungan dengan kesehatan mental atau kejiwaan. Tapi sebenarnya di medis, kita mengenal trauma itu sebagai cedera jasmani, jadi sesuatu yang menyebabkan luka atau cedera berat,” terang dr. Ryan, dikutip dari laman Instagram pribadinya @ryankeswani, Kamis (29/10/2026).

dr. Ryan melanjutkan, dalam penanganan trauma terdapat istilah golden period, yaitu jendela waktu ketika tindakan medis perlu segera dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.

Periode ini, kata dia,menjadi aspek penting karena keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi, bahkan mengancam keselamatan pasien.

“Golden period ini simpelnya adalah suatu jendela di mana penanganan medis harus diberikan agar tidak menyebabkan kerusakan lebih parah,” jelasnya.

Baca Juga: Sering Beli Blind Box? Akademisi Ungkap Potensi Perilaku Adiktif dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental