Persaingan di industri ritel dan distribusi perangkat elektronik semakin ketat, ditandai dengan maraknya perang harga antar pelaku usaha.

Namun, di tengah kondisi tersebut, Erajaya Group justru memilih pendekatan berbeda. Alih-alih terjebak dalam kompetisi harga, perusahaan ini fokus membangun nilai tambah yang sulit ditiru kompetitor.

Vice President Director Erajaya Group, Hasan Aula, mengungkapkan bahwa salah satu strategi utama perusahaan adalah memperkuat lini ritel.

Menurutnya, ritel memberikan ruang lebih besar untuk menjaga stabilitas harga dibandingkan bisnis distribusi yang cenderung lebih rentan terhadap tekanan perang harga.

“Kenapa Erajaya lari ke retail lebih banyak dari distribusi? Kita sekarang retail itu kontribusi mungkin 65% total revenue kita. Karena retail kita bisa sustain harga lebih baik, satu ya retail. Nah distribusi memang selalu munculnya perang harga,” papar Hasan, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Senin (4/5/2026).

Hasan memaparkan, peralihan fokus ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, dalam bisnis distribusi, produk yang sama mudah dibandingkan secara langsung, sehingga harga menjadi faktor dominan.

Sementara di ritel, kata dia, perusahaan memiliki keleluasaan untuk menciptakan diferensiasi, salah satunya melalui program bundling.

Hasan menekankan bahwa Erajaya tidak sekadar menjual produk, melainkan menawarkan paket yang menggabungkan perangkat dengan layanan, aksesori, atau benefit tambahan lainnya. Pendekatan ini secara efektif mengubah cara konsumen membandingkan harga.

“Nah di kita ini, bagaimana kita menciptakan ya, lebih ke program misalnya. Bukan harganya yang kita selalu mau fight. Jadi contohnya misalnya kalau punya produk sama nih di antara kompetitor kita,” tuturnya.

“Kita jangan hanya jual produk aja, kita jual produk bundle, jadi orang nggak bisa bedain harganya kan. Kalau kita hanya compare device to device itu gampang di-compare,” sambungnya.

Dengan strategi tersebut, konsumen tidak lagi melihat produk secara terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan nilai.

Hal ini membuat perbandingan harga menjadi tidak relevan, sekaligus membuka peluang bagi perusahaan untuk menawarkan pengalaman yang lebih komprehensif.

“Tapi kalau bisa bikin paket yang bisa kombinasi dengan services, dengan accessories, dengan apa itu otomatis akan beda. Dan juga service levelnya harus ditingkatin,” ujarnya.

Baca Juga: Prinsip Kepemimpinan Petinggi Erajaya, Hasan Aula

Selain bundling, lanjut Hasan, peningkatan kualitas layanan juga menjadi pilar penting. Hasan percaya bahwa konsumen yang mengutamakan kualitas akan lebih mempertimbangkan pengalaman dibanding sekadar harga.

“Dengan service level lebih baik, orang tidak lihat harga lagi biasanya, walaupun barang sama, orang pasti pilih yang service levelnya lebih baik,” katanya.

“Apalagi kalau di targeting konsumen yang memang membutuhkan quality, bukan hanya membutuhkan kuantiti aja. Jadi kalau service levelnya beda, walaupun barang sama, orang pasti pilih yang service levelnya lebih baik. Jadi itu yang menurut saya harus diciptakan,” lanjut Hasan.

Dijelaskan Hasan, Erajaya pun menghadirkan konsep ritel yang terintegrasi, di mana pelanggan dapat menemukan berbagai kebutuhan dalam satu tempat.

Mulai dari pilihan produk yang lengkap, aksesori, metode pembayaran yang beragam, hingga layanan purna jual, semuanya dirancang untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan.

“Kita menyiapkan semua produk, accessories, pilihan lebih banyak. Kemudian semua payment option ada di kita. Kedua, after sales service juga ada di situ. Jadi semua kita provide,” ungkap Hasan.

Pada akhirnya, kata dia, seluruh strategi tersebut bermuara pada satu hal yang paling krusial, yakni kepercayaan konsumen.

Bagi Erajaya, trust adalah aset utama yang membuat pelanggan tetap setia, bahkan di tengah persaingan harga yang agresif.

“Yang paling penting adalah trust ya. Trust konsumen ke kita itu penting, kalau dia udah trust, apapun yang ada di kita ini nggak bisa di-compare hanya apple to apple secara harga,” tegasnya.

Baca Juga: Alasan Erajaya Perluas Sayap Bisnis, dari Smartphone ke Ekosistem Smart-Lifestyle Terintegrasi