Direktur Bluebird Group Holding, Adrianto Djokosoetono, mengungkapkan pendekatan yang tidak biasa dalam membangun kualitas layanan perusahaan.
Alih-alih hanya mengandalkan laporan atau data, manajemen justru didorong untuk terjun langsung ke lapangan, bahkan menjalankan peran sebagai pengemudi.
Menurut Adrianto, langkah ini bukan sekadar simbolis, melainkan strategi nyata untuk memahami operasional dari sudut pandang paling depan.
“Saya termasuk salah satu yang mendrive bahwa middle management itu harus narik taksi atau narik rental. Boleh juga kalau punya SIM B umum manajemennya, boleh juga narik bus.Tapi kenapa? Karena kita bisa berhadapan langsung dengan customer kita penumpang, nomor satu,” ungkap Adrianto, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Kamis (2/4/2026).
Menurut Adrianto, dengan turun langsung, manajemen dapat merasakan interaksi nyata dengan pelanggan. Hal ini pun dianggapnya penting untuk memahami kebutuhan dan ekspektasi pengguna layanan secara langsung, tanpa perantara.
Tak hanya itu, kata Adrianto, pengalaman di lapangan juga memberi kesempatan bagi manajemen untuk mengevaluasi sistem operasional yang digunakan para pengemudi setiap hari.
“Nomor dua, bisa mereview sistem yang digunakan oleh driver setiap harinya. Nomor tiga, merasakan dan meng-appreciate bahwa jadi driver itu tidak mudah,” tuturnya.
Dari pengalaman tersebut, kata dia, muncul kesadaran bahwa peran pengemudi bukanlah pekerjaan yang ringan. Karena itu, Adrianto menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang mendukung bagi para pengemudi.
“Sehingga tugas kita adalah melayani pengemudi supaya happy people can deliver happiness,” tegasnya.
Baca Juga: Kisah Privilege Adrianto Djokosoetono: Saya Diberi Ruang untuk Gagal
Filosofi ini, lanjutnya, merupakan nilai yang diwariskan oleh pendiri perusahaan. Kunci utamanya adalah membangun koneksi manusia atau human connection yang kuat antara manajemen dan para frontliner, termasuk pengemudi dan petugas lapangan.
Adrianto juga mencontohkan bagaimana dirinya sendiri terus terlibat langsung dalam observasi operasional. Bahkan, dalam situasi perjalanan sekalipun, ia tetap memantau layanan di lapangan.
“Tadi malam saya baru mendarat dari Palembang pun, saya nongkrong di airport, saya ngeliatin counternya, kenapa kok dia ngantri panjang tiba-tiba, sistem apa yang kita bisa berbaikin supaya lebih cepat,” paparnya.
Menurutnya, kehadiran manajemen di lapangan bukan untuk melakukan inspeksi semata, melainkan untuk mencari solusi bersama dan membantu tim bekerja lebih efektif.
“Saya justru berpikir gimana membantu frontliners kita untuk bekerja lebih baik. Sehingga itu dua arah selalu sifatnya,” tukasnya.
Dikatakan Adrianto, pendekatan ini juga menekankan bahwa evaluasi tidak boleh bersifat sepihak. Apa yang dilihat dalam satu waktu belum tentu mencerminkan keseluruhan kondisi.
“Karena gak mungkin yang saya lihat sesaat itu juga selalu benar,” tandasnya.
Baca Juga: Mengenal Adrianto Djokosoetono, Generasi Ketiga Pendiri Bluebird Group