Selain kawasan yang terdampak asap, Sherina juga menyoroti penanganan kebakaran di kawasan lahan gambut, termasuk Taman Wisata Alam Galeget Tiawu, Kalimantan Tengah.
Ia mengungkapkan, tim BKSDA Kalimantan Tengah telah melakukan pemadaman selama delapan hari. Kawasan tersebut bahkan sempat tidak ditemukan api selama dua hari, sebelum bara kembali muncul di sejumlah titik.
Kondisi ini menunjukkan tantangan penanganan kebakaran di lahan gambut. Api dapat bertahan dan membara di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu, tenaga, serta pemantauan secara berkelanjutan.
Sherina turut mengapresiasi kerja berbagai pihak yang terlibat, mulai dari BOS Foundation, BKSDA Kalimantan Tengah, Damkar Dishut, KPHP Kahayan Tengah, hingga Powerful Voices.
Ia pun menyoroti para petugas yang terus bekerja selama berjam-jam, bahkan bermalam di lokasi, untuk mencegah api kembali menyala dan meluas.
Rangkaian kunjungan Sherina di Kalimantan Tengah tidak berhenti pada penanganan titik api. Ia juga berencana melihat secara langsung dampak asap terhadap satwa liar, khususnya orangutan yang berada di Pusat Rehabilitasi BOS Foundation di Nyaru Menteng.
Sherina mengatakan, ingin melihat bagaimana sekolah hutan tetap beroperasi dalam kondisi karhutla, termasuk kondisi kandang yang terdampak asap serta langkah preventif yang dilakukan tim untuk melindungi sekitar 200 individu orangutan.
“Kita akan ke Nyaru Menteng, ke Pusat Rehabilitasi BWSF untuk melihat sekolah hutan bagaimana beroperasi di kala seperti ini. Kandang-kandangnya terdampak asap itu seperti apa, dan kira-kira tindakan preventif apa saja yang tim BWSF lakukan untuk mengamankan 200 individu orang hutan yang ada di sana,” jelas Sherina.
Sherina juga dijadwalkan kembali bersama tim Dinas Kehutanan untuk bertemu dengan petugas di lapangan sekaligus menyerahkan bantuan logistik dan memberikan dukungan.
Sherina juga berencana menuju Tambore, sekitar 2,5 jam perjalanan dari Palangka Raya. Wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi yang menurutnya memiliki persoalan kebakaran cukup serius karena api kerap kembali muncul setelah dipadamkan.
Ia mengatakan, akan menyaksikan langsung upaya petugas menangani kebakaran, termasuk pembuatan sumur untuk membantu proses pemadaman yang dilakukan hingga dini hari.
“Di situ yang memang bermasalah banget apinya, kayak dipadamkan terus nanti muncul lagi. Kita akan menyaksikan upaya para pemadam membuat sumur sampai jam 3 pagi,” tutur Sherina.
Bagi Sherina, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat perjuangan para petugas sekaligus memahami dampak karhutla terhadap masyarakat dan satwa liar.
Ia pun mengajak masyarakat yang ingin berkontribusi untuk mendukung penanganan karhutla, termasuk membantu tim pemadam di lapangan dan perlindungan satwa liar dengan berdonasi di kitabisa.com/PawerfulUntukKarhutla.