Delapan September 2026 menjadi momentum yang menandai setahun sudah kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan RI. Selama menjabat sebagai Bendahara Negara, Purbaya mengamini ada suka duka yang menyertai.
Sebagai sosok dengan latar belakang ekonom, Purbaya mengaku bahwa ia merasa senang menjalankan peran sebagai Menteri Keuangan. Pasalnya, ia bisa menguji teori-teori ekonomi langsung di lapangan. Hal yang tak kalah membuatnya senang yakni berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menunjukkan hasil yang baik.
"Saya fun (menjalankan peran Menkeu). Kalau untuk ilmuan seperti saya, ekonom kan ilmuan, yang paling menarik ketika saya menguji teori-teori ekonomi di lapangan langsung dan kita lihat hasilnya sesuai dengan apa yang kita prediksi atau yang kira rencanakan," tegas Purbaya kepada media di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Berkaca dari Kinerja Tahun 2026, Ke Mana Arah Purbaya Membawa Kebijakan Anggaran Tahun 2027?
Hal yang menurutnya juga membanggakan ialah pertumbuhan ekonomi menorehkan angka yang positif mendekati 6% dalam dua kuartal berturut-turut, yakni 5,61% pada Q1 2026 dan 5,29% pada Q2 2026. Capaian tersebut menambah optimisme Purbaya bahwa Indonesia secara perlahan mulai keluar dari 'kutukan pertumbuhan ekonomi 5%'.
Kendati demikian, Purbaya menyebut bahwa menjalankan peran sebagai Menkeu bukanlah suatu hal yang mudah. Sambil sedikit bergurau, Purbaya mencontohkan salah satu bukti yang menunjukkan betapa beratnya tanggung jawab tersebut melalui berat badannya berubah signifikan. Purbaya mengatakan, berat badannya sempat turun drastis hingga ke 88 kilogram.
Baca Juga: Hitung-Hitungan Purbaya Soal Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau ke Ekonomi: Tidak Sampai...
"Kalau lihat berat badan saya, pas awal jadi menteri saya 102 kg, sekarang 97-98 kg. Sebelumnya turun sampai 88 kg, berarti kerjanya memang berat," tambah Purbaya.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga bercerita kembali soal berbagai tantangan yang ia hadapi sejak awal memimpin Kemenkeu. Salah satu tantangan tersebut ialah menghadapi persepsi negatif masyarakat dan pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Dalam hal ini, Purbaya mengaku harus segera membangun kembali kepercayaan publik. Salah satu pendekatan yang digunakannya berkaitan dengan konsep ekonomi yang disebut self-fulfilling prophecy.
Konsep tersebut menggambarkan bagaimana ekspektasi masyarakat dan investor dapat memengaruhi kondisi ekonomi. Ketika masyarakat percaya ekonomi akan membaik, mereka cenderung meningkatkan konsumsi, investasi, dan ekspansi usaha. Sebaliknya, jika masyarakat memperkirakan ekonomi akan memasuki resesi, investasi dan konsumsi dapat tertahan sehingga justru memperburuk perlambatan.
Purbaya mengatakan optimisme yang ia tunjukkan sejak awal menjabat merupakan bagian dari strategi untuk membentuk ekspektasi positif terhadap perekonomian.
“Itu yang saya coba balik dengan tadi di depan agak sombong kata orang-orang tertentu. Tapi bukan, itu adalah satu strategi untuk membentuk ekspektasi ke depan,” ujarnya.
Ia mengakui sikap tersebut sempat dianggap sebagai bentuk kepercayaan diri yang berlebihan. Namun, Purbaya menegaskan pernyataan optimistisnya merupakan bagian dari upaya membangun keyakinan bahwa perekonomian Indonesia memiliki prospek yang baik.
Setelah itu, pemerintah menjalankan berbagai kebijakan fiskal dan moneter untuk menopang pemulihan ekonomi. Dalam prosesnya, berbagai gejolak di pasar keuangan menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Purbaya menyinggung sejumlah persoalan, mulai dari keluarnya MSCI hingga kekhawatiran terhadap perubahan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat global seperti Fitch Ratings, Moody’s, dan S&P Global Ratings.
Menurut dia, berbagai isu tersebut sempat kembali mengguncang pasar ketika kondisi perekonomian mulai menunjukkan tanda-tanda stabil.
“Jadi yang sulit itu tadi, bukan jurusnya. Jurusnya gampang, itu-itu saja. Fiskal, moneter, ini-ini. Tapi melawan ekspektasi publik atau ekspektasi cerita-cerita negatif yang dikembangkan oleh orang-orang yang tidak terlalu yakin akan arah ekonomi kita,” katanya.
Purbaya menilai pemerintah masih membutuhkan waktu untuk meyakinkan masyarakat dan pelaku pasar bahwa perekonomian Indonesia berada di jalur yang tepat.
“Saya yakin dengan kebijakan yang betul dari Pak Presiden, dengan dukungan fiskal, moneter, dan kebijakan sektor finansial yang baik, ini kita akan membaik terus ke depan,” tegas Purbaya lagi.