Banyak pria menganggap kebiasaan sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar seiring bertambahnya usia. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), gangguan yang umum dialami pria lanjut usia.
Data menunjukkan sekitar 50 persen pria berusia di atas 50 tahun mengalami pembesaran prostat. Angka ini bahkan meningkat menjadi 80–90 persen pada pria berusia 80 tahun ke atas.
Sayangnya, karena gejalanya muncul secara perlahan, banyak penderita tidak menyadari kondisi ini hingga kualitas hidup mereka mulai terganggu.
Menurut dr. Elita Wibisono, Sp.U, Dokter Spesialis Urologi yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading, pembesaran prostat merupakan salah satu masalah kesehatan pria yang paling sering ditemukan, tetapi masih sering dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
"Banyak pasien menganggap pancaran urine yang melemah atau sering terbangun malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar karena faktor usia. Akibatnya, mereka baru datang ke dokter ketika sudah mengalami komplikasi, bahkan hingga tidak bisa buang air kecil sama sekali," jelas dr. Elita, dalam keterangan resminya, Kamis (18/6/2026).
dr. Elita menuturkan, pembesaran prostat terjadi ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kemih. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan, seperti pancaran urine yang melemah, sensasi tidak tuntas setelah buang air kecil, hingga urine yang masih menetes setelah berkemih.

Salah satu gejala yang paling sering dialami adalah nokturia, yaitu kondisi ketika seseorang harus terbangun berulang kali pada malam hari untuk buang air kecil.
Meski terdengar sepele, nokturia dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Gangguan tidur yang terjadi terus-menerus membuat tubuh mudah lelah, menurunkan konsentrasi, serta memengaruhi produktivitas.
"Bayangkan jika seseorang harus bangun tiga hingga lima kali setiap malam untuk ke toilet. Kualitas tidurnya akan terganggu, tubuh menjadi mudah lelah, konsentrasi menurun, dan produktivitas sehari-hari ikut terdampak," ujar dr. Elita.
Lebih jauh, dr. Elita mengatakan bahwa dampak pembesaran prostat ternyata tidak hanya dirasakan secara fisik. Gangguan tidur kronis akibat sering buang air kecil pada malam hari juga dapat memengaruhi suasana hati, tingkat stres, hingga hubungan dengan pasangan.
Ketika keluhan berkemih terus berlangsung, sebagian pria mengalami penurunan rasa percaya diri dan frustrasi. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas hubungan interpersonal maupun kehidupan seksual.
"Kesehatan prostat erat kaitannya dengan kualitas hidup dan kebahagiaan pasangan. Ketika gejala terus mengganggu aktivitas sehari-hari, rasa percaya diri pria dapat menurun dan berdampak pada hubungan interpersonal maupun kehidupan seksual," kata dr. Elita.
Baca Juga: Waspada Saraf Kejepit! Dokter Orthopedi Beberkan Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya
Meski faktor usia tidak dapat dihindari, perkembangan pembesaran prostat dapat diperlambat melalui pola hidup sehat. Menurut dr. Elita, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta memperhatikan pola makan dapat membantu menjaga kesehatan prostat dalam jangka panjang.
"Aktif bergerak, menjaga berat badan ideal, memperbanyak konsumsi sayuran hijau dan tomat yang kaya likopen, serta membatasi konsumsi daging merah olahan dapat membantu menjaga kesehatan prostat dalam jangka panjang," jelasnya.
Kabar baiknya, kemajuan teknologi medis membuat penanganan pembesaran prostat menjadi lebih nyaman.
Berbagai prosedur minimal invasif seperti TURP (Transurethral Resection of the Prostate) dan Rezum kini dapat dilakukan tanpa sayatan pada perut, dengan masa pemulihan yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Karena itu, kata dr. Elita, pria dianjurkan segera berkonsultasi dengan dokter apabila mulai mengalami perubahan pada pancaran urine, merasa tidak tuntas saat buang air kecil, terbangun lebih dari dua kali setiap malam untuk berkemih, atau muncul nyeri maupun darah saat buang air kecil.
"Jangan menunggu hingga tidak bisa buang air kecil atau muncul komplikasi pada ginjal. Gangguan prostat bukan bagian yang harus diterima begitu saja saat menua. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, pria tetap dapat menjaga kualitas hidup, produktivitas, dan keharmonisan bersama pasangan. Karena pada akhirnya, prostat yang sehat membantu menjaga hubungan tetap hangat," tutup dr. Elita.