Presiden Prabowo Subianto kembali mengeluarkan pernyataan soal antek asing yang ingin mengacaukan Indonesia. Narasi antek asing itu sudah berulang kali disampaikan Prabowo dalam berbagai kesempatan. Ia kembali menyinggung itu dalam pidatonya saat menghadiri puncak Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kamis (23/7/2026) malam.

Dalam pidatonya, kepala negara menyinggung ‘londo ireng’ merujuk pada istilah yang digunakan pada masa penjajahan Belanda untuk menggambarkan masyarakat pribumi yang berkhianat dan membantu penjajah memerangi bangsanya sendiri.

Baca Juga: Prabowo Soroti Sikap PDI-P yang Ngotot Jadi Partai Penyeimbang, Singgung Soekarno dan UUD 45

Menurut Prabowo sampai sekarang londo ireng itu masih ada, hanya saja mereka bermutasi dan menyamarkan diri dalam berbagai profesi seperti jurnalis, LSM hingga pengamat. Tugas mereka adalah menyerang pemerintah dengan kritik brutal yang membabi buta.

"Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” kata Prabowo dilansir Jumat (24/7/2026).

Dia kemudian mempertanyakan sumber pendanaan sejumlah LSM yang kerap menyerang pemerintahannya dengan berbagai narasi miring.

“LSM harus kita tanya. Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrik lo siapa? Yang bayar handphone lo siapa? Cari kerjaan susah, kita tahu kan," ujarnya.

Kepala Negara juga menyoroti sejumlah media massa yang dinilainya mengabaikan etika jurnalis dalam membuat pemberitaan. Dimana mereka menyerang pemerintah dengan pemberitaan yang tak berimbang.

“Ada juga media-media yang, ya kan, walaupun kita sudah perbaiki 27 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kita enggak ngerti. Saya enggak sebutlah media mana. Pada saatnya saya sebut. Kalian sudah tahulah," jelas Presiden Prabowo.

Lebih jauh, Presiden Prabowo menyinggung munculnya narasi pesimistis dan provokatif yang secara konsisten memprediksi keruntuhan ekonomi maupun politik Indonesia dari bulan ke bulan. Menurutnya, narasi tersebut berulang kali terbukti salah.

“Jadi saudara-saudara, kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat, enggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat, enggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps. Saya mau ngomong sesuatu tapi ada wartawan. Enggak boleh. Tahan ya, jangan sebut," terangnya.

Baca Juga: Kasus Febrie Adriansyah, Prabowo Harus Berani Tiru SBY di Kasus Cicak vs Buaya

Prabowo menegaskan, pemerintahnya sama sekali tak anti kritik, di negara demokrasi ini semua orang berhak menyampaikan pendapatnya, namun hal itu mesti disampaikan sesuai data sehingga bisa menjadi bahan evaluasi pemerintah. 

"Kita negara demokrasi. Kita tidak anti kritik. Tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain," pungkasnya.