Dalam Indonesia–Thailand Business Forum di Fairmont Hotel, Jakarta (4/7/2026), dengan tema "Advancing the Indonesia–Thailand Strategic Partnership: Building Integrated Value Chains in Industry, Services, and the Halal Economy," SCG Indonesia membagikan best practice dalam mendukung pengembangan distribusi produk semen rendah karbon (low-carbon cement), material sirkular, dan solusi konstruksi hijau di Indonesia, terlebih dalam sektor industri dan proyek infrastruktur.
Diwakili oleh Anawat Pornpunyapat, President Director PT Semen Jawa & PT Tambang Semen Sukabumi, SCG meneguhkan komitmennya untuk terus memperkuat penetrasi produk bangunan hijau di Indonesia. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan melakukan tiga strategi: meningkatkan pemahaman dan kepercayaan konsumen terhadap produk hijau, mempertahankan strategi pasar dan distribusi, serta efisiensi biaya di tingkat produksi.
“Kami tetap berkomitmen untuk mengembangkan solusi konstruksi ramah lingkungan sambil terus meningkatkan efisiensi manufaktur, inovasi produk ramah lingkungan (eco-friendly), dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk berkontribusi pada transisi Indonesia menuju infrastruktur rendah karbon,” ungkap Anawat saat sesi panel, dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin (24/8/2026).
Adopsi produk konstruksi ramah lingkungan masih sering terkendala oleh rendahnya kesadaran serta pemahaman teknis di kalangan pelaku industri. Oleh karena itu, SCG menghadirkan produk bangunan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki kekuatan, daya tahan, dan keandalan yang setara dengan produk konstruksi konvensional. Melalui produk low-carbon cement, SCG memanfaatkan material inovatif yang meningkatkan daya tahan jangka panjang serta ketahanan terhadap paparan bahan kimia.
Tidak berhenti pada pengembangan semen rendah karbon, perusahaan juga secara aktif memberikan edukasi produk dan membangun dialog terbuka dengan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan pemahaman mengenai kinerja dan keandalan produk konstruksi rendah karbon. Untuk memperkuat ketersediaan solusi konstruksi ramah lingkungan, SCG terus memperluas jaringan distribusinya guna memastikan pasokan produk yang konsisten di seluruh wilayah prioritas. Selain itu, perusahaan juga memperluas portofolio Smart Value, High Value-Added (HVA), dan produk ramah lingkungan guna menjawab pertumbuhan pasar konstruksi berkelanjutan yang semakin pesat.
Dalam kesempatan yang sama, SCG menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia guna membangun pasar regional untuk bahan bangunan rendah karbon. Selama lebih dari 30 tahun beroperasi di Indonesia, perusahaan telah membangun berbagai kemitraan strategis dengan mitra lokal melalui berbagi teknologi dan pengetahuan, peningkatan kapabilitas manufaktur sirkular, serta pengembangan kolaborasi yang inklusif.
Dengan pengalaman lebih dari 113 tahun dalam inovasi konstruksi, SCG berkomitmen untuk berbagi inovasi konstruksi rendah karbon di Indonesia. Perusahaan berbagi keahlian teknis, praktik operasional, serta kapabilitas penelitian yang diharapkan dapat mendukung penerapan teknologi dan produk bangunan rendah karbon secara lebih luas, sekaligus menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia. Selain itu, melalui investasi dalam teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) di Kabupaten Sukabumi, SCG bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sukabumi untuk mengolah municipal solid waste (MSW) menjadi bahan bakar alternatif.
Dalam mewujudkan kolaborasi yang berkelanjutan, SCG mengusung Public-Private-People Partnership (PPPP), sebuah model kolaborasi yang memperluas konsep Kemitraan Publik-Swasta (Public-Private Partnership/PPP) tradisional dengan melibatkan masyarakat (People) sebagai pemangku kepentingan aktif. Kolaborasi inklusif ini memainkan peran penting dalam mempercepat pertukaran pengetahuan, mendorong inovasi, serta mendukung implementasi solusi secara praktis. Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, SCG terus berbagi pengalaman dan berdiskusi mengenai berbagai pendekatan dalam pengembangan inovasi hijau di Indonesia.
“Kami akan terus bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait di seluruh Indonesia untuk memajukan teknologi, memperkuat kemampuan lokal, dan berkontribusi pada pengembangan material konstruksi rendah karbon sesuai dengan peraturan dan standar industri yang berlaku,” tutup Anawat.