Di tingkat masyarakat, edukasi menjadi faktor utama yang mendorong berkembangnya ekosistem Public Gold. Hal itu dirasakan langsung oleh First Founder Master Dealer Public Gold Indonesia, Denny Kurniawan, yang telah bergabung sejak awal kehadiran perusahaan di Indonesia.
Menurut Denny, yang membedakan Public Gold dengan perusahaan emas lainnya adalah pendekatan edukatif yang diberikan kepada masyarakat.
“Yang membuat saya jatuh cinta kepada Public Gold bukan hanya sekadar menjual emas. Hari ini banyak penjual emas di mana-mana, tetapi yang sangat membedakan Public Gold adalah edukasinya kepada masyarakat. Edukasi inilah yang membuat masyarakat semakin cerdas secara finansial,” ungkap Denny.
Ia menilai, masih banyak masyarakat yang berfokus pada menumpuk uang tanpa memahami risiko penurunan nilai akibat inflasi. Lebih lanjut, Denny pun berharap semakin banyak masyarakat Indonesia yang mulai menjadikan emas sebagai bagian dari perencanaan keuangan keluarga.
“Saya ingin mengemaskan Indonesia dengan simpan emas. Mudah-mudahan ini bisa menjadi semangat untuk Indonesia ke depannya,” tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan Founder Master Dealer sekaligus Record Breaker Public Gold Indonesia, Tina Christanti. Menurutnya, emas tidak hanya menjadi instrumen investasi, tetapi juga sarana membangun warisan aset bagi generasi berikutnya.
“Kalau kita bekerja hari ini, biasanya kita mencari penghasilan untuk bulan ini. Tetapi ketika berbisnis di Public Gold, kita sedang merancang masa depan dan membangun aset yang terus bertumbuh,” kata Tina.

Tina pun menjelaskan bahwa konsep bisnis yang dikembangkan Public Gold memungkinkan aset dan jaringan yang dibangun tetap memberikan manfaat jangka panjang.
“Bisnis Public Gold ini memang dirancang untuk diwariskan kepada orang-orang terkasih. Kalau bisnis konvensional, ketika pemiliknya meninggal maka bisnisnya bisa berhenti. Tetapi di Public Gold, bisnis itu bisa terus berjalan. Di situlah hebatnya bisnis ini,” ujarnya.
Sementara itu, Founder Master Dealer Champion Sales and Recruitment, Ary Sulaksono, menilai tantangan terbesar dalam mengedukasi masyarakat adalah mengubah persepsi bahwa emas hanya dapat dimiliki kalangan tertentu.
“Selama ini image emas hanya milik orang-orang berduit dan orang-orang kaya. Tetapi setelah saya jalankan, ternyata anggapan itu tidak berlaku di Public Gold. Public Gold bukan hanya menjual emas, tetapi memberikan ilmu dan edukasi sehingga masyarakat memahami fungsi emas itu sendiri,” ungkap Ary.
Menurut Ary, akses kepemilikan emas kini semakin mudah karena masyarakat dapat memulai pembelian dengan nominal yang relatif terjangkau.
“Pembelian emas di Public Gold bisa dimulai dari nominal yang sangat kecil, sekitar Rp300 ribuan. Jadi tidak harus orang yang punya banyak uang untuk bisa memiliki emas. Semua orang bisa, selama ilmunya sampai kepada masyarakat,” katanya.
Ary juga menegaskan bahwa kualitas produk Public Gold telah memenuhi standar internasional dan dipasarkan di berbagai negara.
“Public Gold bukan hanya hadir di Indonesia dan Malaysia, tetapi juga di Dubai dan London. Artinya, emas Public Gold sudah mendunia. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana edukasi ini bisa sampai kepada seluruh masyarakat Indonesia,” tandasnya.
Baca Juga: 5 Rahasia Investasi Emas Digital