Samsung Electronics Co., Ltd secara resmi mengumumkan PT XDC Indonesia (XDC), penyedia solusi infrastruktur IT dan anak perusahaan dari CTI Group, sebagai mitra distribusi resmi (official business partner) untuk lini produk Interactive Flat Panel (IFP) di Indonesia. Langkah strategis ini diambil untuk merespons percepatan transformasi digital di sektor pendidikan serta kebutuhan integrasi teknologi informasi di segmen enterprise dan commercial display Tanah Air.
Lanskap pendidikan modern menuntut peralihan dari metode pengajaran satu arah menuju ekosistem pembelajaran yang kolaboratif, interaktif, dan berbasis multimedia. Penggunaan Interactive Flat Panel Display (IFP) kini menjadi standar baru yang sangat relevan dengan sistem kurikulum berbasis digital.
Baca Juga: Bukan Sekadar Gadget, Ini Peran Ekosistem Samsung Galaxy dalam Menjaga Keseimbangan Hidup
IFP menggabungkan fungsi papan tulis interaktif, layar resolusi tinggi, integrasi cloud storage, serta fitur real-time annotation. Teknologi ini terbukti efisien untuk berbagai skenario pendidikan:
- Tingkat Dasar hingga Perguruan Tinggi: Memfasilitasi visualisasi materi yang dinamis, eksperimen simulasi digital, dan keterlibatan aktif siswa;
- Sekolah Swasta, Negeri, hingga Internasional: Menjembatani kesenjangan akses teknologi serta mendukung standar pembelajaran global;
- Institusi Pendidikan Berbasis Keagamaan & Umum: Memudahkan integrasi media pembelajaran berbasis audio-visual dan digitalisasi materi ajar;
- Ruang Rapat Guru & Kelas Online (Hybrid Learning): Mendukung kolaborasi antar-pendidik saat penyusunan kurikulum serta pembelajaran jarak jauh yang lebih lancar dan mudah.
Tren Pasar: Pertumbuhan Pesat di Indonesia dan Asia Tenggara
Pasar Interactive Flat Panel di kawasan Asia Tenggara mengalami pertumbuhan signifikan seiring masifnya inisiatif smart education dari pemerintah maupun sektor swasta. Selain sektor pendidikan, industri korporasi, ruang pertemuan bisnis, hingga pusat pelatihan modern juga menunjukkan peningkatan adopsi IFP untuk efisiensi rapat hybrid.
Di Indonesia, permintaan akan perangkat IFP mencatatkan lonjakan tinggi dibandingkan negaranegara lain di Asia Tenggara. Hal ini didorong oleh skala geografis Indonesia yang luas, tingginya jumlah satuan pendidikan, serta dorongan kebijakan nasional dalam pemerataan infrastruktur teknologi sekolah. Jika kawasan Asia Tenggara fokus pada integrasi sistem pembelajaran terpadu di area urban, pasar Indonesia menunjukkan permintaan masif baik di kota besar maupun daerah berkembang untuk mendukung hybrid learning dan digitalisasi ruang kelas.
Dari sisi penggunaan, XDC melihat adanya pergeseran dari kebutuhan terhadap layar lebar (large screen) yang terutama digunakan untuk presentasi menuju solusi display yang lebih interaktif dan mendukung kolaborasi.
“Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, kami melihat perubahan yang cukup jelas dalam cara customer memandang display. Kalau sebelumnya display lebih banyak digunakan untuk menyampaikan informasi atau presentasi, sekarang kebutuhannya berkembang menjadi perangkat yang bisa ikut mendukung bagaimana orang bekerja, kegiatan belajar mengajar, berkolaborasi, dan mengambil keputusan,” ujar Silvia Trenaningsih, President Director PT XDC Indonesia, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, kebutuhan tersebut mendorong customer mencari display yang lebih interaktif, terhubung, dan mudah digunakan, termasuk untuk wireless screen sharing, hybrid meeting, video conferencing, serta integrasi dengan berbagai perangkat dan aplikasi. Fitur smart dan AI yang mendukung produktivitas sehari-hari juga mulai menjadi pertimbangan.
"Pendidikan adalah fondasi utama kemajuan bangsa, dan teknologi interaktif merupakan kunci untuk membuka potensi belajar yang inklusif dan futuristik," ujar Subiantoro Sadha, Head of B2B Display Solutions Samsung Electronics Indonesia.
"Melalui kemitraan strategis bersama XDC, kami optimistis dapat menjangkau lebih banyak institusi pendidikan di Indonesia, mulai dari sekolah dasar hingga universitas, guna menghadirkan pengalaman belajar mengajar yang lebih interaktif, fleksibel, dan relevan dengan perkembangan zaman," tutup Subiantoro.