Perjalanan Karir
Jalan Salman Aristo menuju dunia film terbuka saat ia bekerja sebagai wartawan di majalah musik Trax Magazine dan memegang rubrik film. Pekerjaan tersebut mempertemukannya dengan sejumlah sineas seperti Hanung Bramantyo, Rizal Mantovani, dan Erwin Arnada, yang kemudian membuka banyak peluang baginya untuk terjun ke industri perfilman.
Dalam waktu singkat, Salman menunjukkan produktivitas luar biasa dengan menulis lima skenario sekaligus, yakni Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Cinta Silver, Jomblo, dan Alexandria.
Pada 2005, ia sempat rehat sejenak dan menikah dengan penulis skenario Ginatri S. Noer. Kariernya kian melesat setelah dipercaya menulis Ayat-Ayat Cinta, lalu Laskar Pelangi, dan Garuda di Dadaku secara hampir bersamaan satu tahun setelahnya.
Selain dikenal sebagai penulis, Salman juga merambah dunia produksi lewat rumah produksi Million Pictures dan melakukan debut sebagai produser melalui Queen Bee.
Baca Juga: Mengenang Sosok Arifin C. Noer, Sastrawan dan Sutradara Film Legendaris
Ia kemudian melebarkan peran sebagai sutradara dengan film Jakarta Maghrib (2010). Sejak itu, namanya konsisten terlibat di berbagai film populer Indonesia sebagai penulis, produser, maupun sutradara, seperti Negeri 5 Menara, Cinta dalam Kardus, Athirah, hingga Bumi Manusia.
Di samping berkarya di balik layar, Salman Aristo juga aktif sebagai pengajar penulisan skenario sejak 2009 melalui PlotPoint Kreatif. Bersama Arief Ash Shiddiq, ia turut menyusun buku panduan kelas skenario berdasarkan kurikulum pengajarannya.
Kemudian, Salman mendirikan Wahana Penulis bersama Gina S. Noer dan Ifan Ismail, sebuah perusahaan pengembangan cerita berbasis riset yang selanjutnya bergabung dengan PlotPoint Kreatif dan berkembang menjadi PT Wahana Kreator Nusantara (kini Wahana Edukasi), dan menjabat sebagai CEO.
Hingga kini, ia tetap mengajar sekaligus produktif menciptakan berbagai karya, termasuk podcast drama audio Kisah Horor The Sacred Riana (2020) dan Horor Pendek (2021), serial Indonesia Biner, serta Klub Kecanduan Mantan yang tayang di Netflix pada 2023.
Penghargaan dan Nominasi
Sepanjang kariernya, Salman Aristo telah meraih berbagai penghargaan dan nominasi bergengsi berkat kiprahnya sebagai penulis skenario, produser, dan sutradara. Ia beberapa kali masuk nominasi Festival Film Indonesia sejak 2005 lewat Brownies dan Jomblo, disusul Garuda di Dadaku, Hari untuk Amanda, Jakarta Maghrib, Sang Penari, hingga Garuda di Dadaku 2 dan Mencari Hilal.
Baca Juga: Deretan Komika yang Sukses Jadi Sutradara
Sejumlah kemenangan juga berhasil diraihnya, antara lain Ajang Apresiasi KASKUS untuk Film Indonesia (KuFI) untuk kategori Penulisan Skenario Terbaik, penghargaan Naskah Terbaik di The Isfahan International Film Festival of Children and Young Adults untuk Sang Pemimpi, serta Piala Citra FFI 2016 untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik lewat Athirah.
Karyanya pun terus mendapat pengakuan, termasuk nominasi Piala Maya untuk Bumi Manusia dan penghargaan Penulis Skenario Terpuji di Festival Film Bandung pada 2020.