Arifin Chairin Noer atau yang lebih akrab dengan nama Arifin C. Noer bukanlah sosok asing di dunia sastra dan film Tanah Air.
Ia dikenal sebagai sastrawan berpengaruh sekaligus sutradara film ternama pada masanya. Meski raganya telah tiada, karya-karya Arifin C. Noer tetap hidup dan terus dibicarakan hingga kini.
Sepanjang kariernya, ia meraih berbagai penghargaan bergengsi. Salah satunya melalui film Pemberang (1972), yang mengantarkannya meraih penghargaan Penulis Skenario Terbaik di Festival Film Asia dan The Golden Harvests. Setelah itu, ia semakin dikenal lewat deretan film ikonik yang berhasil sutradarainya, termasuk Pengkhianatan G30S/PKI.
Berikut telah Olenka rangkum dari berbagai sumber, Selasa (13/1/2026), untuk mengenang kembali sosok Arifin C. Noer dan perjalanan kariernya sebagai sastrawan dan sutradara film.
Baca Juga: Mengenang Sosok Pendiri Merek Legendaris Teh Botol Sosro, Soegiharto Sosrodjojo
Profil Arifin C. Noer
Lahir di Cirebon pada 10 Maret 1941, Arifin Chairin Noer merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Minat Arifin C. Noer pada dunia sastra sudah tumbuh sejak ia masih bersekolah.
Putra dari Mohammad Adnan ini bahkan rela pindah ke SMA Jurnalistik di Solo demi lebih dekat dengan dunia yang dicintainya. Saat itu, ia meninggalkan sekolahnya di Cirebon agar bisa bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra serta Himpunan Sastrawan Surakarta, yang mana menjadi titik awal kariernya di dunia teater.
Dalam kelompok drama asuhan W.S Rendra, Arifin berkesempatan untuk menulis dan menyutradarai lakonnya sendiri, seperti Kapai Kapai, Tengul, Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang, dan Sandek Pemuda Pekerja.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas, Arifin melanjutkan studinya di Universitas Tjokroaminoto, Surakarta hingga tingkat doktoral.
Semasa kuliah, ia juga berkesempatan untuk bergabung dengan Teater Muslim yang dipimpin oleh Muhammad Diponegoro. Disini, Arifin melahirkan karya pertamanya yang berjudul Mega, mega: Sandiwara tiga bagian pada 1966.
Mengenai kehidupan pribadi sang sastrawan, Arifin pernah menikah dengan gadis tambatan hati yang ditemuinya di Surakarta, Nurul Aini. Setelah melangsungkan pernikahan pada 1960-an, ia dikaruniai dua orang anak.
Sayangnya, pernikahan tersebut berakhir pada 1979. Setelah itu, Arifin menikah lagi dengan Jajang Pamoentjak, putri dari Duta Besar RI pertama untuk Prancis dan Filipina. Dari pernikahan ini, keduanya dikaruniai dua orang anak.