Bagi banyak pengusaha, menjalankan bisnis sendiri berarti memegang kendali penuh, dari strategi hingga operasional harian. Karena itu, masuk ke dalam organisasi orang lain kerap terasa asing.
Namun, seiring matangnya ekosistem startup dan semakin selektifnya pendanaan, transisi dari pendiri menjadi pemimpin di dalam struktur korporat kini menjadi langkah karier yang semakin relevan, bahkan memuaskan.
“Setelah menjadi pendiri, DNA Anda berubah,” tutur Jean Z. Poh, Chief Business Officer Clover II Corporation dan mantan CEO Swoonery, sebagaimana dikutip dari Forbes, Jumat (30/1/2026).
Naluri untuk membangun sesuatu melekat kuat, sehingga ketika peran itu berakhir, para pengusaha perlu menyusun ulang identitas mereka.
Proses ini bukan hanya refleksi diri, tetapi juga evaluasi praktis seperti keahlian apa yang masih relevan, apa yang memicu semangat, dan struktur kerja seperti apa yang memungkinkan mereka tetap berkreasi.
Tren ini terlihat jelas di industri mewah dan kreatif. Merek-merek perhiasan, fesyen, hingga perhotelan mulai melihat nilai strategis dari para pendiri yang terbiasa membangun bisnis dari nol.
Menurut William Brobston, Presiden Brobston Group, kekuatan utama pengusaha terletak pada kedekatan mereka dengan hasil nyata. Mereka memahami keuangan secara menyeluruh dan terbiasa mengambil keputusan cepat dalam kondisi serba terbatas, kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan.
Poh pun menyebut pola pikir ini sebagai kemampuan 'pengenalan pola', mencakup melihat gambaran besar, membaca peluang, lalu mengeksekusi dengan fokus. Meski skala bisnis bisa berubah drastis, naluri kewirausahaan untuk bergerak di tengah ketidakpastian tetap menjadi keunggulan.
Pengalaman serupa dialami Angela Hedges dari Harry Winston. Setelah puluhan tahun berkarier, ia sempat mendirikan bisnis konsultasi sendiri sebelum akhirnya kembali ke perusahaan lamanya.
Pengalaman sebagai pendiri, menurutnya, mempertajam cara berpikir, memperkuat pengambilan keputusan, dan menegaskan pentingnya kolaborasi. Ia kembali dengan perspektif baru yang justru memperkaya perannya sebagai pemimpin.
Meski begitu, transisi ini tidak selalu mulus. Di organisasi besar, keputusan sering berjalan lebih lambat dan melibatkan banyak pihak.
Rob Bowerman dari Bowerman Group menyebut kekhawatiran utama perusahaan adalah apakah mantan pengusaha mampu beradaptasi dan tidak selalu ingin 'menjadi bos'.
Selain itu, status sebagai pendiri atau CEO tidak otomatis berujung pada posisi puncak. Memulai satu atau dua tingkat di bawah jabatan sebelumnya kerap menjadi langkah strategis untuk memahami budaya dan membangun kepercayaan.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Elon Musk yang Bisa Ditiru Para Pengusaha untuk Meraih Kesuksesan Bisnis