Kondisi pasar domestik mengalami tekanan bertubi-tubi, mulai dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 5.300-an hingga nilai tukar rupiah yang sudah menembus level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut memunculkan anggapan bahwa Indonesia sedang menuju krisis seperti tahun 1998 silam.

Merespons anggapan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru mengambil sikap berbeda. Ia meyakini bahwa Indonesia tidak sedang menuju krisis. Ia menilai bahwa fundamental ekonomi nasional masih kuat meski pasar keuangan dan rupiah mengalami tekanan.

Baca Juga: Detik-Detik Menkeu Purbaya Buka Segel Gerai Tiffany & Co: Siap Bayar Denda Rp78,5 Miliar!

"Kita tidak sedang menuju keadaan seperti krisis 97-98 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus," tegas Purbaya belum lama ini. 

Purbaya menambahkan, tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen negatif di pasar, bukan faktor pelemahan fundamental ekonomi nasional. Kondisi tersebut, lanjut Purbaya, dapat diperbaiki dengan terus memperkuat koordinasi antara pemerintah, otoritas keuangan, dan Bank Indonesia.

Baca Juga: Bayar Utang hingga Jaga Rupiah, Cadangan Devisa RI Anjlok dan Sentuh Level Terendah Sejak Juni 2024

"Hanya ada sentimen negatif di sana-sini yang mengganggu sedikit. Nanti lama-lama sentimen negatif itu bisa hilang," tegas Purbaya lagi.

Mempertimbangkan hal tersebut, Purbaya berharap para investor untuk melihat kondisi ekonomi Indonesia secara lebih komprehensif sehingga tidak hanya fokus pada sentimen jangka pendek.

"Jadi teman-teman investor, pahami kondisi ekonominya seperti apa, yang saya bisa katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonominya bagus, kepemimpinan Bapak Presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan Bapak Presiden," tutupnya.