Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turut menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang sedang tertekan karena berbagai faktor seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh Rp18.000 kendati kini perlahan menguat level Rp17.912 hingga kenaikan signifikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax.

SBY yang sempat memimpin Indonesia selama satu dekade mengaku tahu betul cara menghadapi tekanan ekonomi seperti sekarang ini, ia sudah kenyang dengan pengalaman terkait penanganan serta pemulihan ekonomi.

Baca Juga: Rupiah Menguat, SBY Soroti Kolaborasi Pemerintah dan BI

"Saya tahu, karena kenyang dalam menangani tekanan ekonomi seperti ini ketika memimpin Indonesia dulu, semua ikhtiar pemerintah ini tentu memerlukan waktu," kata SBY lewat akun resmi X, @SBYudhoyono dilansir kamis (11/6/2026).

SBY mengatakan dalam kondisi yang seperti ini, Pemerintah sangat membutuhkan dukungan publik, proses pemulihan ekonomi yang sedang anjlok memang tidak bisa dilakukan secara instan, butuh proses panjang lewat berbagai kebijakan presisi.

"Perlu dukungan publik yang lebih kuat. Ingat, "in crucial thing, unity". "In important thing, dialogue" dan diwadahinya keragaman pandangan yang konstruktif. Pikiran yang rasional, kebijakan yang tepat dan aksi-aksi nyata yang serius menjadi sangat penting," ucapnya.

Dalam kondisi ini, Pemerintah lanjut SBY juga perlu menjaga komunikasi publik, jangan sampai pernyataan-pernyataan yang diutarakan pemerintah justru blunder yang bikin tensi memanas. 

Tak hanya itu dia juga meminta pemerintah mengurangi pernyataan publik yang bersifat spekulatif sebab hal ini justru memantik perbedaan pendapat dan perdebatan di tengah masyarakat.

Baca Juga: Mengintip Sisa Cadang Devisa RI di Tengah Ambruknya Nilai Tukar Rupiah

"Meningkatkan komunikasi yang lebih efektif sehingga kebijakan dan langkah pemerintah dimengerti oleh rakyat dan "market". Menghentikan berbagai spekulasi dan ketidakpastian," pungkasnya.