Pernahkah kamu terbayang bahwa melonjaknya dolar AS ternyata ikut menentukan harga segelas kopi yang kamu minum hari ini?

Nilai tukar rupiah semakin melemah pada Mei 2026 di angka Rp17.514 per dolar AS. Pelemahan ini mencatat rekor baru dalam sejarah karena melebihi nilai tukar rupiah tertinggi pada tahun 1998 di masa reformasi. Banyak sektor yang terkena dampaknya, mulai dari energi dan otomotif, farmasi, infrastruktur dan properti, industri berbahan baku impor, serta makanan dan minuman. 

Ketergantungan Impor

Termasuk kebutuhan primer, makanan dan minuman menjadi salah satu sektor yang sangat dekat dengan masyarakat. Meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, pada kenyataannya sebagian besar komoditas pangan Indonesia masih bergantung pada impor. 

Mayoritas komoditas pangan yang bergantung pada impor merupakan pangan pokok yang harus dipenuhi oleh masyarakat, seperti gandum dengan persentase impor 100%, kedelai 90%, gula hampir 100%, susu 80%, dan masih banyak lagi. Hal ini tentu memaksa sektor pangan menaikkan harga jualnya karena transaksi impor sudah pasti menggunakan dolar AS yang kian menaik. 

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi menerangkan bahwa produk olahan akan mengalami kenaikan harga lebih cepat karena ada efek domino dari biaya produksi, distribusi, logistik, kemasan, hingga bahan pelengkap lainnya. 

“Dampak pelemahan rupiah bisa terasa dalam hitungan minggu karena industri pengolahan langsung menghadapi kenaikan biaya bahan baku," ujarnya di publikasi risetnya.

Baca Juga: Kondisi Rupiah Kini vs Krisis 1998 dalam Kacamata Misbakhun: Sangat Beda, Jangan Disalahartikan

Masalah dari Kopi

Bayangkan, salah satu produk olahan sesederhana kopi saja bisa terkena dampaknya. Meskipun beberapa biji kopi merupakan biji lokal, komponen pendukung lainnya akan mengalami lonjakan harga karena efek pelemahan rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah menyentuh seluruh aspek dalam kehidupan.

Selain itu, pendapatan yang dihasilkan oleh masyarakat tidak sebanding dengan lonjakan harga pangan. Perputaran ekonomi semakin lesu, banyak masyarakat mulai berhemat meskipun hal tersebut tidak menutup seluruh masalah yang ada. Efek domino pelemahan nilai rupiah ini akan melebar kemana-mana.

Di sisi lain, bukan hanya konsumen yang ‘tercekik’ oleh  efek ini, pelaku industri makanan dan minuman olahan saat ini mengalami dilema antara menaikkan harga jual atau mementingkan loyalitas konsumen. Jika dinaikkan secara drastis, konsumen akan kabur, namun jika tidak dinaikkan mereka terancam gulung tikar karena tidak menerima keuntungan. Sampai saat ini mereka masih menunggu kebijakan penurunan terhadap bea masuk bahan baku dari pemerintah. 

Harus Ada Solusi

Masalahnya, fundamental ekonomi indonesia menjadi hal yang perlu diperhatikan. Seperti program-program prioritas pemerintah yang masih membebani fiskal hingga kebijakan pemerintah yang sulit ditebak. 

Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) sudah memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 6,00%. 

Sementara itu, Kementerian Keuangan akan membeli kembali Surat Berharga Negara di pasar sekunder secara bertahap. Meskipun begitu, kebijakan ini hanya akan menjadi obat sementara saja, bukannya menyembuhkan ekonomi kita.

Maka dari itu, tetap perlu ada kebijakan fiskal dengan tata kelola yang stabil agar kepercayaan investor semakin meningkat. Namun, sampai kapan pelemahan rupiah ini akan terus terjadi dan menyasar masyarakat umum? 

Tanpa strategi yang tepat, secangkir kopi kita di masa depan mungkin akan terasa semakin pahit, bukan karena bijinya melainkan karena harganya.

Penulis: Najwa Zahra Nurfadilah