Nilai tukar mata uang Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menyentuh angka di atas Rp17.000/USD selama bulan Mei 2026. Pada penutupan perdagangan hari Kamis (28/5) kemarin, levelnya telah menyentuh angka Rp17.828 per dolar AS. Kondisi tersebut makin turun di hari ini (29/5) yang sempat menyentuh angka Rp17.876 per dolar AS berdasarkan data Trading Economics.

Ekonom Rhenald Kasali menegaskan, kondisi tersebut disebabkan oleh kondisi eksternal seperti konflik di Timur Tengah yang masih berlanjut serta kondisi dalam negeri. Dari dalam negeri, kebijakan fiskal yang diambil pemerintah tidak cukup memberikan keyakinan bagi investor.

Baca Juga: Ekonom Desak Pemerintah Berbenah Diri untuk Atasi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

“Pelemahan rupiah saat ini lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi antara tekanan global, arus modal internasional, kebutuhan valas domestik, serta persepsi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” ujarnya kepada Olenka, Jumat (29/5/2026).

Lebih rinci dia menjelaskan, sisi eksternal yang memengaruhi nilai tukar rupiah saat ini adalah tingginya suku bunga Amerika Serikat tinggi sehingga menyebabkan investor global cenderung beralih ke aset safe haven (USD) di tengah ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah.

“Kondisi ini mendorong terjadinya arus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Jadi, semua negara kena imbas, tetapi tak semua negara tak berdaya seperti rupiah,” ujar pendiri Rumah Perubahan ini.

Sementara itu, dari sisi domestik, pelaku pasar Indonesia melihat tidak ada kepastian, konsistensi, trust, dan kemampuan Indonesia dalam menata diri. Akibatnya, persepsi terhadap keberlanjutan fiskal, kebutuhan pembiayaan program-program pemerintah yang besar, serta kekhawatiran terhadap independensi kebijakan moneter membuat investor melepas rupiah dan beralih ke safe haven.

“Selain itu, permintaan dolar AS di dalam negeri juga meningkat karena kebutuhan impor yang semakin besar, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi keuntungan perusahaan asing. Ketika permintaan dolar lebih besar dibanding pasokannya, tekanan terhadap rupiah menjadi lebih kuat,” tegasnya.

Selain rupiah, sejumlah mata uang emerging markets seperti won Korea Selatan, rupee India, dan beberapa mata uang Asia lainnya juga mengalami tekanan akibat kondisi global yang sama. Hanya saja, mata uang negara lain mampu rebound dengan cepat.