Bagi para seniman, realitas ini adalah pengalaman sehari-hari yang kemudian menjadi fondasi praktik kreatif mereka.

“Di Asia Tenggara, para seniman sering bekerja langsung di dalam lingkungan yang ingin mereka pahami, mulai dari infrastruktur industri dan jaringan digital hingga hutan, garis pantai, dan sistem perkotaan. Praktik mereka menunjukkan bagaimana kondisi teknologi dan ekologi benar-benar dialami di lapangan,” terang Natasha Doroshenko Murray, selaku Founder RUANG// sekaligus Editor-in-Chief RUANG// Journal, dikutip Selasa (31/3/2026).

“RUANG// Journal hadir untuk mendukung penulisan yang melihat penyelidikan artistik ini sebagai bentuk pengetahuan yang penting,” lanjut Natasha.

Melalui esai-esai dalam edisi ini, pembaca diajak menelusuri berbagai pendekatan artistik yang melintasi batas antara seni, riset, dan kritik.

Sejumlah seniman bekerja bersama ilmuwan atau melakukan penelitian lingkungan secara langsung, sementara lainnya mengeksplorasi isu tenaga kerja, pengawasan, dan infrastruktur tropis melalui narasi spekulatif serta praktik lintas disiplin.

Kontributor edisi perdana meliputi Yu Ke Dong, Annabelle Tan Kai Lin, Kenneth Wong See Huat, Elena Wise, Jaron Lua Jie Long, Wenceslaus Mendes, Chiara Serpani, serta Victoria Hertel dan Isa Pengskul, menghadirkan perspektif yang beragam dari seluruh kawasan.

Diterbitkan secara gratis dan tanpa iklan, RUANG// Journal mencerminkan komitmen terhadap akses terbuka dan pengembangan wacana kritis.

Dengan mempertemukan penulis dari berbagai latar belakang baik yang sedang berkembang maupun yang telah mapan, jurnal ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem intelektual seni kontemporer di Asia Tenggara.

Baca Juga: Umumkan Para Pemenang Kontes, YKAN Tekankan Pentingnya Konservasi dan Pelestarian Lingkungan