Perkembangan teknologi digital dan perubahan perilaku konsumsi informasi membuat industri media menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Di tengah dominasi algoritme media sosial dan persaingan memperebutkan perhatian audiens, mempertahankan identitas atau DNA media dinilai menjadi kunci agar tetap relevan dan mampu bertahan.

Hal tersebut disampaikan oleh Editor in Chief Harper's Bazaar Indonesia, Ria Lirungan, yang menilai bahwa seluruh media saat ini dituntut untuk terus beradaptasi dengan berbagai perkembangan teknologi tanpa kehilangan karakter yang menjadi ciri khas masing-masing.

Menurut Ria, perubahan lanskap media memang memaksa setiap perusahaan media untuk menyesuaikan strategi distribusi konten. Namun, upaya tersebut tidak seharusnya mengorbankan nilai, kualitas, maupun identitas editorial yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

"Saya rasa semua media itu sangat challenging saat ini karena harus beradaptasi dengan berbagai perkembangan teknologi, termasuk algoritme. Tetapi yang penting adalah menurut saya kita tetap harus setia dengan DNA media kita masing-masing," papar Ria, saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut, Ria menuturkan, derasnya persaingan di era digital mendorong sebagian media untuk memproduksi konten yang berorientasi pada clickbait demi mengejar trafik.

Fenomena tersebut, kata dia, menjadi tantangan tersendiri bagi media yang ingin tetap menjaga kualitas sekaligus mempertahankan kepercayaan pembaca.

Baca Juga: Editor in Chief Harper's Bazaar Indonesia Ungkap Tantangan Besar Industri Media di Era Digital

"Di tengah perkembangan media saat ini, baik media yang sebelumnya merupakan media konvensional maupun media digital lainnya, banyak yang terdorong untuk membuat konten-konten yang mungkin clickbait," katanya.

Meski demikian, Ria menegaskan bahwa relevansi dan konsistensi harus tetap menjadi prioritas.

Menurutnya, performa seperti jumlah pembaca, views, dan engagement memang penting karena media sosial merupakan sarana komunikasi yang efektif dengan audiens. Namun, seluruh indikator tersebut tetap harus dicapai tanpa meninggalkan identitas media.

"Bagaimana kita bisa tetap setia dengan DNA media kita masing-masing, menjaga relevansi dan konsistensi. Tentu saja unsur views dan engagement juga harus menjadi pertimbangan karena bagaimanapun juga media sosial adalah alat komunikasi bagaimana kita bisa engage dengan audiens kita," tutur Ria.

Lebih lanjut, ia menilai, kemampuan membangun komunikasi dua arah dengan audiens menjadi pekerjaan rumah sekaligus tantangan bagi setiap media.

“Jadi harus memang berkomunikasi dua arah, jadi itu menjadi sebuah PR dan challenge untuk setiap media bagaimana kita engage dengan audiens kita masing-masing,” pungkasnya.

Baca Juga: Perempuan Leader Harus Tegas atau Sensitif? Ini Pandangan Editor in Chief Harper’s Bazaar Indonesia tentang Kepemimpinan