Perkembangan teknologi diperkirakan akan membawa perubahan besar pada industri transportasi digital dalam beberapa tahun ke depan. Akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali memprediksi bahwa perusahaan ride-hailing seperti Grab dan Gojek pada masa mendatang berpotensi mengandalkan mobil otonom atau autonomous vehicle dalam operasionalnya.

Menurut Rhenald, langkah tersebut dapat menjadi strategi perusahaan untuk menghadapi meningkatnya tekanan biaya yang berkaitan dengan kemitraan pengemudi di platform transportasi digital.

Ia menjelaskan bahwa selama ini sektor ride-hailing menjadi salah satu alternatif pekerjaan bagi banyak masyarakat, terutama ketika peluang kerja formal terbatas. 

“Ketika terjadi pengangguran, maka manusia Indonesia beralih menjadi supir Grab, narik Gojek dan sebagainya. Apakah motor atau mobil, mereka bisa macam-macam,” ujarnya dikutip Olenka, Sabtu (14/3/2026).

Namun dalam perkembangannya, hubungan antara platform dan mitra pengemudi mulai menghadapi berbagai dinamika. Dalam beberapa waktu terakhir, muncul tuntutan dari para pengemudi terkait peningkatan insentif, pembagian komisi, hingga perlindungan kesejahteraan.

“Hari ini mereka mulai demonstrasi, minta kenaikan persentase, minta kenaikan insentif, minta dikurangi proporsi untuk pemilik platform,” kata Rhenald.

Di sisi lain, perusahaan platform menyatakan bahwa bisnis ride-hailing masih menghadapi tantangan untuk mencapai profitabilitas. “Pemilik platform mengatakan, kami tidak punya uang, belum untung perusahaan-perusahaan ini,” lanjutnya.

Situasi tersebut juga mendorong keterlibatan pemerintah dalam mengatur hubungan antara platform dan mitra pengemudi. Beberapa kebijakan mulai diterapkan, mulai dari kewajiban pemberian tunjangan hari raya hingga perlindungan jaminan sosial.

Rhenald mencontohkan bahwa salah satu platform bahkan telah menyalurkan dana hingga ratusan miliar rupiah untuk tunjangan bagi mitra pengemudi. Selain itu, perusahaan juga diwajibkan memberikan perlindungan melalui program jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.

Di tengah dinamika tersebut, perkembangan teknologi kendaraan tanpa pengemudi mulai menjadi perhatian. Rhenald menyinggung keberhasilan teknologi mobil otonom yang dikembangkan oleh Waymo, anak perusahaan dari Google.

Baca Juga: Rhenald Kasali Soroti Teknologi Drone di Perang Modern

“Google telah berhasil menjalankan Waymo, yaitu self-driving car atau mobil tanpa awak, sudah dijalankan jutaan kilometer tanpa kecelakaan,” ujarnya.

Menurutnya, jika tekanan biaya terhadap perusahaan platform terus meningkat, maka penggunaan teknologi mobil otonom dapat menjadi opsi efisiensi di masa depan. Tanpa pengemudi manusia, perusahaan dapat mengurangi biaya operasional yang selama ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam bisnis ride-hailing.

“Kalau beban ini terus dinaikkan, maka Grab dan Gojek mau tidak mau harus menaikkan harga. Kalau harga naik, konsumen di bawah bisa berkurang. Kalau konsumen berkurang, mereka harus mencari cara efisiensi,” jelasnya.

Efisiensi tersebut, kata Rhenald, pada akhirnya bisa mengarah pada penggunaan kendaraan otonom dalam layanan transportasi digital.

“Bagaimana caranya? Tidak menggunakan pengemudi. Artinya pekerjaan itu berpotensi dalam 10 tahun ke depan akan hilang,” tutupnya.

Meski demikian, prediksi tersebut juga membuka diskusi lebih luas mengenai dampak teknologi terhadap pasar tenaga kerja, khususnya bagi jutaan mitra pengemudi yang saat ini bergantung pada platform transportasi digital sebagai sumber penghasilan.